Referensimaluku.id, -Ambon – Kapolsek Sirimau , Iptu Bastian Tuhuteru menegaskan komitmennya menekan angka kenakalan remaja terutama anak-anak Bataso dan tawuran antar sekolah lewat program preventif. Salah satu terobosan yang disiapkan adalah patroli pada jam sekolah.
“Kami akan MOU dengan beberapa sekolah. Kalau patroli ketemu anak yang berkeliaran di luar jam sekolah, akan kami tahan dan bawa untuk dibina. Karena kadang-kadang mereka nakal di jam-jam itu,” kata Bastian saat diwawancarai, Senin 11/5/2026.
Selain patroli, Bastian menyiapkan pembinaan mental spiritual bagi remaja yang kerap terlibat kenakalan. Pembinaan dilakukan di sekolah dengan melibatkan pemuka agama. Untuk siswa muslim diarahkan ke pesantren kilat, sedangkan siswa Kristen dibimbing ke gereja.
Kapolsek juga berencana menggelar kegiatan rekonsiliasi antar SMA yang sering konflik. “Mungkin sekali-sekali kita bikin persahabatan, main bola kaki bersama. Tujuannya menyatukan dua kelompok anak yang sering tawuran,” ujarnya.
Tak hanya itu, pihaknya menggandeng BLK dan WPM untuk membekali anak-anak dengan keahlian. “Jadi mereka bisa berkarya sendiri, menghasilkan uang yang baik. Daripada suka bikin hal yang negatif,” tambah Bastian.
Bastian menyoroti masih banyak masyarakat yang main hakim sendiri karena tidak paham hukum. Ia mencontohkan kasus di anak-anak Bataso, di mana mereka memukul warga dan minum-minum hingga memicu masalah.
“Polisi bukan hanya patroli dan terima pengaduan. Masyarakat mesti paham dirinya juga harus jadi polisi untuk diri sendiri. Jangan sampai terjerat masalah hukum karena main hakim sendiri,” tegasnya.
Karena itu, Polsek Sirimau gencar melakukan edukasi hukum setiap hari lewat patroli dialogis dan konsultasi di titik rawan. “Preventif itu pencegahan. Kita ke sekolah, bicara langsung kelompok yang meresahkan dan kita akan bina mereka,” jelasnya.
Bastian menyebut Sirimau sebagai jantung Kota Ambon yang rawan terdampak konflik dari wilayah lain karena masyarakatnya heterogen. Untuk itu, pendekatan ke tokoh agama dan tokoh masyarakat terus digencarkan.
“Setiap Jumat saya wajib keliling masjid. Setiap Minggu keliling gereja. Saya cuma minta waktu 5 menit habis ibadah untuk sampaikan pesan kamtibmas. Kalau kumpul warga susah, tapi kalau lewat masjid gereja kan sudah kumpul,” katanya.
Targetnya, Sirimau zero konflik sehingga aman bagi investor dan masyarakat. “Mama-mama ke pasar tidak takut dompet hilang. Orang tidak takut begal. Makanya saya tidur malam keliling terus,” ujar peraih Hoegeng Award 2025 itu.
Bastian merupakan polisi berprestasi yang pernah membangun SD Negeri di Buru Selatan dan mengungkap sejumlah kasus atensi. Tahun 2026 ini, ia kembali masuk tiga besar nominasi Hoegeng Award kategori Polisi Perbatasan dan Pedalaman.
“Saya harap media bantu sampaikan hal baik terkait pelayanan kepolisian. Jabatan ini amanah. Kita kerja sesuai perintah pimpinan dan dukung program Kapolda,” tutupnya. (RM-06)









Discussion about this post