Referensimaluku. Id, -Ambon-
Oleh : Asgar Shaleh
Kamis tengah malam waktu Ternate saya menjalani sidang Komisi Disiplin PSSI. Isi surat mereka terkait pertandingan Persib vs Malut United. Sidang kurang lebih 20 menit dan saya sudah tahu arah sidang itu karena selama ini – Komdis hanya pura pura bersidang agar punya dasar menjatuhkan hukuman yang sudah disiapkan. Apapun pembelaan anda di sidang itu tidak akan didengar.
Secara pribadi – ini baru pertama kali menjalani sidang Komdis sejak mengurus sepakbola tahun 2003. Dan jujur saya tidak punya alasan yang cukup untuk memahami posisi Komdis karena banyak ketidakadilan yang justru terlewatkan. Yang paling saya ingat karena masih segar adalah Komdis secara arogan dan sepihak menjatuhkan hukuman larangan 3 pertandingan tanpa banding kepada Yakob Sayuri. Entah apa dasarnya karena Malut United tidak pernah dimintai penjelasan tentang apa yang terjadi di lorong pemain saat ricuh di stadion Indomilk Arena.
Saya ada di situ dan saya tegaskan Yakob jadi korban rasis oleh oknum yang menggunakan rompi media dan karena itu dia melawan. Area itu seharusnya steril dari media tapi hanya Malut United yang dihukum. Tuan rumah bersih. Kasus rasis ini yang viral dimana mana justru didiamkan oleh Komdis dan PSSI padahal ini penghinaan terhadap kemanusiaan.
Balik lagi ke kerja Komdis – saya dinyatakan bersalah karena “menghina”. Siapa yang saya hina? Para mafia yang saya sebut dalam postingan di akun ini yang kemudian dibagikan oleh banyak media lengkap dengan jabatan saya sebagai Wakil Manager. Saya tegaskan dan boleh dibaca ulang bahwa saya menulis itu tanpa menyebut jabatan saya. Saya menulis sebagai refleksi personal terhadap keburukan wasit dalam pertandingan itu yang disaksikan jutaan orang di televisi.
Dalam KUHP – pasal penghinaan adalah delik pengaduan. Para mafia kah yang mengadukan saya ke Komdis? Atau orang-orang yang saya duga terganggu kepentingannya ketika saya mengkritik sesuatu untuk kebaikan. Hanya Tuhan dan Komdis yang tahu.
Atau saya dituding melanggar FairPlay? Saya bukan pemain atau pelatih atau siapapun yang terlibat secara langsung saat pertandingan berlangsung. Tak ada prinsip FairPlay yang saya langgar selama pertandingan itu. Saya menulis kritik saya secara personal tanpa menyebut posisi sebagai Wakil Manager Malut United. Jadi mengapa harus baper terhadap kritik yang disampaikan? Di dunia media sosial yang tanpa batas, sangat banyak orang yang menyampaikan kritik secara terbuka. Presiden Prabowo saja sering dikritik. Kapolri berulang kali dikritik. Tapi mereka semua menyikapi tanpa arogansi seperti Komdis PSSI.
Banyak juga yang bilang sepakbola kita mafia, memaki dan “menghina” wasit secara terbuka tapi apa sikap Komdis?. Andai punya waktu luang saya sarankan Komdis untuk menonton ulang pertandingan itu. Kalo secara teknis mungkin tidak paham – tapi dengarkan makian “Malut Anjing” atau “Gustafo Anjing” yang dinyanyikan sepanjang laga. Apa sikap Komdis? Saya menduga anda akan menjawab “tidak ada laporan”.
Saya bangga ketika dalam proses mengkritik kepemimpinan wasit dan menyebut ada mafia – Komdis langsung menjatuhkan hukuman. Tentang wasit akan saya tulis secara terpisah. Dan karena itu saya makin yakin ada ketidakadilan dalam proses ini. Mungkin karena saya dari Indonesia Timur yang selama ini selalu didiskriminasi dengan makian rasial.
Secara resmi – mulai hari ini saya pamit dari urusan sepakbola yang dikelola oleh federasi karena saya dihukum larangan beraktivitas dalam sepakbola (sesuatu yang sumir dan terlalu umum dasar hukum dan bentuk hukumannya) selama 3 bulan. Saya akan terus mendukung Malut United karena ini adalah kebanggaan bersama. Ini identitas dan alat perjuangan kami untuk perbaikan sepakbola Indonesia.
Saya juga akan terus mengkritik segala sesuatu yang tidak benar dalam sepakbola Indonesia karena tujuan saya adalah untuk perbaikan. Kalo kritik dibungkam dengan hukuman dan denda – maka saya akan terus melawan dengan akal sehat. (**)










Discussion about this post