Referensimaluku.id, –Ambon- Ketika Paul si Gurita memprediksi dengan benar seluruh hasil pertandingan timnas Jerman di Piala Dunia 2010, hewan laut itu dipuja dunia. Namun sejatinya, Paul kalah jitu dibandingkan seorang ekonom asal Jerman bernama Joachim Klement pria yang permodelannya terbukti 100 persen akurat dalam memprediksi juara Piala Dunia sejak 2014.
Kini, melalui permodelan yang sama, Joachim memetakan jalannya Piala Dunia 2026 yang untuk pertama kalinya digelar di tiga negara sekaligus: Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, antara 11 Juni hingga 19 Juli mendatang.
Permodelan Joachim mampu menelusuri hasil turnamen yang diikuti 48 tim nasional tersebut mulai dari kemenangan mengejutkan Jepang atas Brasil di babak gugur, hingga Skotlandia yang tersingkir oleh Korea Selatan pada babak yang sama.
Timnas Inggris diperkirakan melaju hingga semifinal, namun langkah tim asuhan Thomas Tuchel itu akan diadang Portugal skenario yang mengingatkan pada Piala Dunia 2006. Adapun puncak turnamen, menurut statistik Joachim, akan menjadi milik Belanda negara yang selama ini dikenal sebagai kekuatan sepak bola terbesar yang belum pernah sekalipun menjuarai Piala Dunia.
Menariknya, Joachim sendiri tidak pernah berniat serius dengan permodelannya ini.
“Ini dimulai sebagai latihan untuk menunjukkan kepada dunia kesombongan para ekonom yang berpikir mereka bisa meramalkan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka pahami,” ujar Klement.
Setelah tepat memprediksi Jerman juara pada 2014, ia berharap perhitungannya di Piala Dunia 2018 akan membuktikan bahwa semuanya hanyalah kebetulan. Namun justru sebaliknya Prancis juara 2018 dan Argentina juara 2022, keduanya sesuai prediksinya.
“Karena saya benar tiga kali berturut-turut, orang-orang kini berpikir bahwa permodelan saya tidak terkalahkan,” katanya.
Joachim mengakui bahwa keberhasilan suatu negara di Piala Dunia memang sebagian ditentukan faktor sistemik seperti jumlah penduduk, kekayaan, iklim, dan peringkat FIFA. Namun ia mengingatkan publik untuk tetap kritis.
“Separuh lainnya adalah keberuntungan. Setiap pertandingan sangat bergantung pada performa hari itu, keputusan wasit, atau sedikit keberuntungan seperti bola membentur tiang atau masuk ke gawang. Hal-hal seperti itu sama sekali tidak dapat diprediksi,” tegasnya.
Bagi Joachim yang sehari-hari bekerja sebagai ahli strategi di bank investasi Panmure Liberum, permodelan Piala Dunia adalah hiburan tersendiri di tengah kesibukannya.
“Khususnya pada 2026, ketika ada begitu banyak krisis dan perang, ini adalah sesuatu yang membuat saya merasa senang dan semoga juga memberi pembaca sedikit pengalihan dari semua hal buruk yang terjadi di dunia,” ungkapnya.
Namun beban harapan kini semakin besar. Rekan-rekan kerjanya bahkan sudah memasang taruhan pada Belanda berdasarkan prediksinya.
“Jika Belanda tersingkir dari Piala Dunia, saya rasa keesokan harinya saya harus bekerja dari rumah,” candanya. (RM-06)









Discussion about this post