Referensimaluku.id, Ambon – Hingga saat ini pengusutan “skandal pancuri kepeng” jemaat sebesar Rp 6,8 Miliar di Klasis Ambon Timur masih ‘karam’ di Direktorat Reserse dan Kriminal Umum Kepolisian Daerah Maluku. Masalahnya permintaan pihak Penyidik Ditreskrimum Polda Maluku ke pihak Majelis Pekerja Harian Sinode Gereja Protestan Maluku (MPHS GPM) untuk segera melengkapi 14 item sebagai syarat menindaklanjuti laporan sejumlah pendeta Emeritus di bawah pimpinan Pendeta Christian Sahetapy benar-benar tak digubris otoritas MPHS GPM sebelumnya. Kepentingan membangun “sekat” dan melindungi “Roh Sindikat”, meminjam istilah atau diksi Profesor Aholiab Watloly, masih terlalu kuat dan berupaya dilindungi hingga kepemimpinan MPHS GPM yang baru dilantik.
Fenomena ini sangat mendukakan warga GPM. Di tengah ketulusan warga GPM memberikan kolekta untuk melancarkan pelayanan, justru di bagian lain “Hamba-hamba Tuhan” mulut parlente dengan tanpa rasa malu mencuri dan menggelapkan uang jemaat dalam jumlah besar. Miliaran rupiah itu angka fantastis untuk ukuran sebuah kejahatan terorganisir loh! Tapi, anehnya,
“Hamba-hamba Tuhan” tetap percaya diri naik mimbar memberikan khotbah soal nilai-nilai etika Kristiani dan Hukum Taurat yang sangat melarang keras perilaku “mencuri” atau mengingini barang (milik) orang lain. Ibarat lagu “Tabola Bale”, begitu kondisi kekinian yang tengah menyelimuti perjalanan GPM.
Ini perilaku yang tak saja cacat intelektual alias dungu, seperti disitir Rocky Gerung, tapi juga cacat iman. Banyak hamba-hamba Tuhan yang takut bersuara karena imbasnya akan dimutasikan ke “jemaat-jemaat GPM yang kering dari sisi pendapatan dan sulit mengakses jaringan telekomunikasi. Boleh jadi MPHS GPM dikendalikan “Hamba-hamba Tuhan” bertangan besi yang menakut-nakuti para pemberontak dan warga GPM sendiri. MPHS GPM sudah melakoni diri bak “Negara kacil” di Maluku.
Pelayanan soal kedua, profit soal utama. Quo vadis warga GPM? “Masalah penggelapan uang jemaat sebesar Rp 6,8 Miliar di Klasis Ambon Timur itu kan udah terjadi pada beberapa tahun yang lalu kemudian (kasusnya) sudah dilaporkan, namun sampai hari ini belum diketahui progresnya apa dari penanganan kasus itu oleh penyidik Polda Maluku.
Oleh sebab itu, kita mendesak Polda Maluku supaya segera melakukan penyelidikan tambahan. Artinya, bila masih ada kekurangan data maka dimintakan ke MPHS GPM untuk segera masukan data tambahan supaya kasusnya dapat ditingkatkan ke tahap penyidikan dan selanjutnya dilakukan gelar perkara untuk penetapan tersangka,” tandas pegiat antikorupsi Maluku dan warga GPM, Herman Siamiloy kepada Referensimaluku.id di Ambon, Jumat (19/12).
Meski begitu, Herman bilang penuntasan kasus dugaan pancuri uang jemaat di Klasis Ambon Timur relatif tergantung kejujuran dan komitmen tulus MPHS GPM saat ini untuk mendukung pihak kepolisian menuntaskan kasus ini. Sepanjang MPHS GPM saat ini masih dihuni “Hamba-hamba Tuhan” lama yang telah terkontaminasi dengan upaya membungkam kasus pancuri kepeng jemaat di Klasis Ambon Timur, niscaya semua upaya warga GPM dan pihak kepolisian bakal menemui jalan buntu.
“Kita semua berharap MPHS GPM yang baru ini bisa meletakan kembali wajah GPM ini secara baik dan beretika Kristiani saat ini dan ke depan, sehingga tidak ada lagi kesan bahwa pimpinan Sinode itu sampai dengan dia mati itu ada terjadi apa-apa.
Ada kasus yang ditinggalkan sebagai pekerjaan rumah. Ya namanya ada lain tidak senang yang lain dan bahkan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan aturan seperti itu,” lanjut Herman. “Jadi kita harapkan struktur MPHS GPM yang baru ini bisa membenahi apa yang sudah rusak dan membangun tatanan baru untuk bagaimana melaksanakan tugas secara baik sesuai dengan fungsi di dalam struktur yang sekarang. Hanya saja jangan sampai ada indikasi bahwa yang masuk dalam struktur MPHS GPM baru ini juga adalah orang-orang lama yang sudah terkontaminasi dengan masalah-masalah sebelumnya di Klasis Ambon Timur maupun di klasis-klasis lain yang belum terpublikasi. Sehingga akhirnya kita sudah sangat sukar mengharapkan bahwa MPHS GPM saat ini dan ke depan itu akan bekerja secara jujur dan Takut Tuhan Allah sebab yang mereka kejar hanya kesenangan duniawi dan materi tapi perilakunya menyimpang dari nilai-nilai Kristiani yang diajarkan Yesus Kristus,” pungkas Herman. (RM-02)










Discussion about this post