Referensimaluku.id, -AMBON – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Ambon menerapkan pendekatan humanis dalam rangka menyemarakkan peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan (HBP) ke-62. Sejumlah lomba kreatif yang melibatkan interaksi langsung antara petugas dan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) digelar, Jumat (24/4/2026), sebagai media pembinaan karakter di balik jeruji besi.
Kegiatan yang berlangsung meriah di halaman Rutan Ambon ini menghadirkan variasi permainan yang tidak hanya menguji ketangkasan, tetapi juga strategi dan kerja sama, seperti dam, catur, kartu gaplek, hingga ular tangga manusia. Pemilihan jenis lomba ini disengaja untuk menciptakan suasana kekeluargaan dan menghilangkan sekat kaku antara aparat penegak hukum dan warga binaan.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Rutan Ambon, Jefry Persulessy, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian integral dari program pembimbingan kemasyarakatan. Menurutnya, pendekatan yang keras saja tidak cukup; diperlukan sentuhan psikologis dan sosial untuk membangun kembali mentalitas WBP.
“Pendekatan humanis menjadi kunci dalam sistem pemasyarakatan modern. Melalui lomba-lomba kreatif ini, kami ingin membangun karakter WBP yang disiplin namun tetap memiliki rasa kebersamaan dan sportivitas tinggi,” ujar Jefry dalam keterangannya.
Jefry menambahkan, momen Hari Bhakti Pemasyarakatan adalah waktu yang tepat untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan. Interaksi positif selama perlombaan diharapkan dapat meningkatkan motivasi WBP untuk berubah menjadi lebih baik selama masa pembinaan.
“Ini bukan sekadar hiburan. Ini adalah sarana terapi sosial agar mereka tetap memiliki semangat hidup dan siap reintegrasi ke masyarakat nantinya,” tambah Jefry.
Suasana kompetisi tampak sehat dan penuh tawa, terutama saat ajang ular tangga manusia digelar. Petugas dan WBP terlihat berbaur, saling mendukung, dan merayakan setiap langkah kemenangan lawan maupun teman. Salah satu WBP mengakui bahwa kegiatan semacam ini memberikan dampak psikologis yang positif.
“Kami merasa dihargai dan tidak hanya dipandang sebagai narapidana. Suasana jadi lebih segar, dan hubungan dengan petugas jadi lebih akrab,” ungkap seorang warga binaan yang mengikuti lomba dam.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan hadiah kepada para pemenang sebagai apresiasi atas partisipasi dan sikap fair play yang ditunjukkan. Rutan Ambon berharap, melalui pendekatan inklusif dan berkelanjutan seperti ini, lingkungan penjara dapat menjadi tempat yang kondusif bagi proses perbaikan diri, sekaligus mendukung terciptanya sistem pemasyarakatan yang lebih manusiawi di Indonesia.(RM-06))








Discussion about this post