REFMAL.ID, Ambon – Perkelahian antarpelajar di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 3 di Waiheru, Kecamatan Teluk Ambon Baguala, Ambon, Maluku, sudah seringkali terjadi namun sengaja dibiarkan begitu saja oleh manajemen sekolah. Mengapa dibiarkan?
Sebab, pernah terjadi ketika guru memarahi siswa di SMK Negeri 3 Ambon tiba-tiba datang orangtua siswa dengan senjata tajam lalu menganiaya oknum guru hingga pingsan. Namun, perkelahian antarpelajar di SMK Negeri 3 Ambon di Waiheru, Selasa (19/8/2025) siang sekira Pukul 12.00 WIT di kala banyak guru SMK N 3 Ambon lagi mengikuti upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Provinsi Maluku di Lapangan Merdeka Ambon akhirnya berdampak massif hingga pembakaran puluhan rumah warga Hunuth Durian Patah, termasuk kantor desa Hunuth tak luput dari amukkan massa yang tak terkontrol emosi menyusul tewasnya siswa Kelas XII (NkPi) jurusan pelayaran berinisial AP oleh siswa kls XI jurusan listrik IS.
Sebelum pembakaran rumah-rumah warga Hunuth Durian Patah yang tak bersalah, datang puluhan warga berbekal senjata tajam dan bom molotov merangsek masuk ke dalam SMK Negeri 3 Ambon.
Mereka mengibas-ngibas parang di lantai dan ada pula yang menghunus parang hingga sejumlah guru dan siswa panik dan berlari dan berupaya melindungi diri. Setelah massa keluar terdengar teriakan provokasi kalau yang menikam AP adalah warga Hunuth Durian Patah. Sontak warga meluapkan amarah dengan melempari, merusakkan dan membakar rumah-rumah warga Hunuth Durian Patah.
COPOT KAPOLSEK LEIHITU DAN BABINKAMTIBMAS HITU
Di tengah upaya Pemerintah Provinsi Maluku, Pemerintah Kota Ambon, Kepolisian Daerah Maluku dan Kepolisian Resort Kota Ambon dan Pulau-Pulau Lease, memediasi dan membangun rekonsiliasi empat pemerintah negeri masing-masing Waiheru, Hunuth Durian Patah, Hitu dan Hitu Lama, masyarakat mendesak Kapolresta Ambon Dr. Yoga Putra Prima, S.IK.,M.IK segera mencopot Kapolsek Leihitu Iptu Moyo Utomo dan Bhayangkara Pembina (Babin) Kamtibmas Hitu yang dinilai gagal berperan aktif mencegah dan meredam konflik.
Mobilisasi warga Hitu yang membawa jenasah AP ke negeri Hitu, seharusnya dapat ditangkal ketika massa yang turun dari Hitu ke sekitar area konflik relatif membutuhkan waktu lebih kurang sejam perjalanan.
Namun, faktanya polisi lambat bergerak dan mengantisipasi konflik sehingga rumah-rumah warga Hunuth Durian Patah yang tak tahu apa-apa lantas jadi amukan massa tak beradab dan rendah peradaban.
KASUS KRIMINAL MURNI ATAU SATU BAGIAN KONSPIRASI POLITIK
Terlepas dari benar atau tidaknya atau ada tidaknya rekayasa di balik penetapan IS, siswa kelas XI jurusan listrik di SMK Negeri 3 Ambon sebagai pelaku penikaman rekan sekolahnya AP, Rabu (20/7), sesungguhnya ada “benang merah” yang layak diurai dari pernyataan IS ketika dintegorasi sejumlah oknum polisi yang baru menangkapnya di Dusun Hunimua, Tulehu, Selasa (19/8) sore di dalam mobil dalam perjalanan ke Polresta Ambon di mana IS menyebutkan senjata tajam yang dia gunakan untuk menikam AP berasal dari pemuda Tial, Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah.
Padahal, publik Maluku sempat disuguhkan konflik sosial antara warga Tulehu dan Tial pada akhir Maret 2025, yang menimbulkan korban jiwa di warga Tulehu. Pernyataan IP terasa janggal dan memantik spekulasi liar banyak kalangan masyarakat sebab konflik warga Tulehu dan Tial masih menyisakan dendam dan luka.
Mana mungkin IS mendapatkan pisau dari warga Tial sementara kedua negeri masih bersitegang hingga saat ini. Jika akhirnya pernyataan IS benar maka asumsi liar dapat saja mengatakan jika konflik Tulehu dan Tial, Masihulan dan Sawai, perkelahian pelajar SMK Negeri 3 Ambon dan pembakaran puluhan rumah warga Hunuth Durian Patah oleh massa dari Leihitu adalah satu kesatuan konspirasi politik besar untuk mengacaukan lagi kondusifitas keamanan dan ketertiban di Maluku.
Konspirasi ini dibangun dari elite politik Maluku di Jakarta dan di Ambon sendiri. Tujuannya jelas, untuk pengalihan isu dan penambahan biaya pengamanan. Siapa pemain sandiwara ini? Publik pasti tahu pada waktunya. (Tim RM)










Discussion about this post