Referensimaluku.id, Tiakur — Distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) kembali menuai sorotan masyarakat setempat. Penelusuran lapangan Referensimaluku.id, pekan ini, mengungkap dugaan penyimpangan dalam penyaluran BBM di satu-satunya SPBU milik Jemy Luther yang beroperasi di wilayah tersebut.
BBM yang seharusnya dijual sesuai harga resmi sekitar Rp13.0050 per liter diduga tidak sepenuhnya disalurkan kepada masyarakat umum. Sebagian pasokan dalam jumlah besar justru diarahkan kepada pengecer tertentu dengan harga lebih tinggi.
Akibatnya, harga BBM di tingkat pengecer meroket hingga Rp16.000 per liter, bahkan di desa-desa jauh dari pusat kabupaten menembus Rp20.000 per liter. Kondisi ini membuat masyarakat semakin terjepit, terutama mereka yang tinggal di wilayah terpencil.
“Di desa, harga sudah tidak masuk akal. Kami butuh BBM setiap hari, tapi harganya makin naik. Pemerintah seperti tidak peduli,” ujar Gian, salah seorang warga Moa di Tiakur, Senin (8/12).
Keluhan juga datang dari para pengecer kecil. Mereka mengaku tidak diizinkan membeli BBM langsung di SPBU dan dipaksa mengambil melalui pengecer tertentu yang diduga memiliki akses khusus. Pola distribusi ini dinilai tidak transparan dan berpotensi menimbulkan praktik monopoli.
Jam operasional SPBU turut menjadi sorotan. SPBU disebut beroperasi dari pukul 09.00 hingga 04.00 WIT, namun pola penyaluran selama jam tersebut dipertanyakan masyarakat.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten MBD dinilai belum mengambil langkah tegas meski lonjakan harga BBM terus meresahkan warga.
“Pemda harus turun tangan. Ini kebutuhan dasar masyarakat. Jika dibiarkan, harga akan terus naik dan masyarakat yang menjadi korban,” tegas seorang pemerhati kebijakan publik di Tiakur.
Warga mendesak Pemda MBD, aparat penegak hukum, dan Pertamina untuk segera mengevaluasi distribusi BBM, memperketat pengawasan, serta memastikan harga kembali sesuai ketentuan. (RM-05)










Discussion about this post