Referensimaluku.id, Ambon – Empat atlet dan satu pelatih asal Pengurus Provinsi Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) Maluku masuk skuad Dayung Indonesia di Sea Games XXXIII Thailand, 9-20 Desember 2025.
Empat atlet dayung Malulu tersebut, yakni La Memo, Chelsea Corputty, Arni Silva Pattipeiluhu, dan Issa Behuku.
Kesemuanya merupakan atlet-atlet Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) yang selalu menorehkan prestasi gemilang untuk Maluku dan Indonesia. Sedangkan satu pelatih Maluku, yakni Cores Gustaf Sahupala yang selama ini menjadi pelatih Tim Nasional Dayung di Pelatnas.
ADA YANG SALAH
Pengamat olahraga Maluku Rony Samloy menilai prestasi membanggakan yang ditorehkan La Memo dan kawan-kawan tak dapat dilepaspisahkan dari kontribusi nyata Anos Yermias semasa beliau dipercayakan menjabat Sekum di zaman Anthonius Sihalohi hingga dipercayakan menjadi Ketua Pengprov PODSI Maluku.
“Kalau bicara soal jatuh bangunnya cabang dayung di Maluku, hal itu belum lengkap tanpa menyebut peran dan kontribusi nyata Bung Anos Yermias selama dia memimpin dayung Maluku lebih dari satu dekade terakhir,” imbuh jurnalis olahraga senior Maluku di Ambon, Senin (8/12).
Meski begitu, ujar Samloy, dirinya khawatir dayung Maluku akan terpuruk setelah era Memo, Chelsea, Arni maupun Issa karena tak ada atlet-atlet lapis kedua maupun lapis ketiga yang disiapkan Pengprov PODSI Maluku saat ini.
“Yang dikuatirkan seperti itu, karena kegagalan total Tim Dayung Maluku di Popnas Jakarta 2025 kemarin menjadi titik balik prestasi dayung Maluku selama ini di sejumlah event-event nasional, sebab yang kita tahu bersama kalau atlet-atlet Popnas merupakan cikal bakal atlet-atlet Maluku yang akan berlaga di Pekan Olahraga Nasional.
Padahal, Memo dan Chelsea misalnya bisa punya prestasi sampai di level tinggi saat ini, karena mereka punya pengalaman mumpuni di Popnas dan PON,” papar mantan ketubid Humas dan Ketubid Organisasi Pengprov PODSI Maluku itu.
Samloy lantas dengan gamblang menyebut ada yang salah dengan manajemen pembinaan dayung Maluku selama lebih kurang lima tahun terakhir. “Semua ini harus dievaluasi dan diperbaiki sebelum PON 2028 di NTB dan NTT,” serunya mengingatkan. (RM-03)










Discussion about this post