Referensimaluku. Id, -AMBON – Drama adu penalti yang berakhir dengan kekalahan tipis dari Benpasi FC tidak menyurutkan semangat Gema FC untuk terus berinovasi.
Di balik status runner-up yang mereka raih pada final Turnamen Gawang Mini Liga Ramadhan 2026, Selasa (14/4/2026), tersimpan sebuah terobosan penting yang mungkin menjadi pelajaran berharga bagi sepakbola lokal Maluku: kehadiran Terapis Olahraga.
Pertandingan sengit yang berlangsung di Lapangan Gawang Mini Mandala Putra, Desa Nania, tersebut memang berakhir dengan skor imbang 1-1 hingga perpanjangan waktu, sebelum akhirnya Benpasi FC unggul 3-2 melalui eksekusi dua belas pas. Namun, sorotan pasca-pertandingan justru tertuju pada strategi pendampingan atlet yang diterapkan oleh President Club Gema FC, Engky Wenno.
Investasi pada Kesehatan Atlet
Engky Wenno mengungkapkan bahwa untuk partai puncak melawan 63 tim lainnya yang telah gugur, Gema FC secara khusus memfasilitasi tim dengan tenaga profesional Terapis Olahraga. Langkah ini diambil sebagai bentuk keseriusan klub dalam menjaga kondisi fisik pemain di tengah jadwal pertandingan yang padat dan intensitas permainan yang tinggi.
“Salah satu upaya maksimal yang saya lakukan pada partai final ini adalah memastikan Gema FC didampingi oleh Terapis Olahraga. Fokus utamanya adalah pencegahan cedera (preventive) sebelum laga dan pemulihan (recovery) segera setelah pertandingan usai,” ujar Engky di sela-sela acara.
Bagi Engky, hasil akhir di lapangan adalah takdir, namun mempersiapkan tubuh atlet agar berada dalam kondisi prima adalah kewajiban manajemen klub. “Kondisi fisik dan performa atlet adalah kunci utama dalam mencapai tujuan di setiap pertandingan. Tanpa dukungan terapi yang tepat, risiko cedera bisa menghancurkan peluang tim untuk berprestasi,” tegasnya.
Seruan bagi Klub Sepakbola Maluku
Melalui pengalaman di final Liga Ramadhan ini, Engky Wenno menyampaikan pesan keras namun konstruktif kepada para pemilik klub sepakbola di Maluku. Ia menilai bahwa era sepakbola modern, bahkan di level turnamen komunitas atau gawang mini, menuntut pendekatan yang lebih ilmiah.
“Ini harus menjadi perhatian serius bagi para pemilik klub di Maluku. Menjadikan terapis olahraga sebagai salah satu komponen penting dalam struktur tim bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan mendesak,” seru Engky.
Ia menekankan bahwa peran terapis tidak hanya dirasakan saat terjadi cedera, tetapi lebih jauh untuk memastikan stamina pemain tetap terjaga, mengurangi kelelahan otot, dan mempercepat proses regenerasi energi antar-pertandingan. “Dukungan ini wajib ada untuk menunjang atlet sebelum, selama, bahkan sesudah bertanding. Ini adalah investasi jangka panjang untuk keberlanjutan prestasi klub,” tambahnya.
Menerima Takdir dengan Kepala Tegak
Terkait hasil akhir pertandingan, Engky menerima dengan sportivitas tinggi. “Kita sudah bermain maksimal. Hasil adalah takdir yang harus kita terima dan syukuri. Tugas kita ke depan adalah terus berlatih, tetap solid dalam tim, dan melengkapi diri dengan dukungan profesional seperti terapis ini agar kejayaan Gema FC bisa terus ada di setiap lapangan tanding,” pungkasnya.
Meski pulang tanpa trofi juara, Gema FC berhasil membawa pulang sebuah pesan progresif: bahwa kemenangan sejati dalam olahraga juga ditentukan oleh bagaimana sebuah klub merawat dan menghargai tubuh para atletnya. Langkah ini diharapkan dapat memicu kesadaran baru bagi ekosistem sepakbola di Tanah Air, khususnya di Maluku, untuk lebih peduli pada aspek sport science dan kesehatan atlet.(RM-06)










Discussion about this post