Referensimaluku.id, Tiakur – Angka kasus HIV ((Human Immunodeficiency Virus) / AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) masih tergolong tinggi dan membutuhkan perhatian serius seluruh pemangku kepentingan. Hal ini terungkap dalam pendampingan dan pemeriksaan pasien HIV/AIDS yang dilakukan Klinik PDP HIV Melati RSUD Tiakur, Pulau Moa, sepanjang tahun 2025.
Ketua Tim dan Penanggungjawab Penanganan HIV/AIDS RSUD Tiakur, dr. Valda A. Laipeny saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (27/1/2026), menguraikan sepanjang tahun 2025 sebanyak 1.185 orang telah menjalani skrining HIV di seluruh wilayah MBD, baik di puskesmas maupun rumah sakit.
Dari jumlah tersebut, 10 orang dinyatakan reaktif HIV. Selain itu, terdapat enam warga MBD yang terdeteksi positif HIV di luar daerah dan dirujuk kembali untuk berobat di RSUD Tiakur, sehingga total pasien baru HIV/AIDS selama tahun 2025 mencapai 16 orang dan apabila diakumulasi dengan pasien-pasien tahun sebelumnya, maka jumlahnya mencapai 36 orang per 31 Desember 2025.
Selama Tahun 2025 tercatat 8 pasien meninggal dunia, lima adalah pasien yang baru terdeteksi di 2025 dan 3 pasien lainnya baru terdeteksi sebelum 2025.
“Kematian pasien umumnya terjadi akibat keterlambatan deteksi, kondisi sudah berada pada stadium lanjut atau ketidakpatuhan dalam menjalani pengobatan antiretroviral (ARV) yang harus diminum seumur hidup,” ungkapnya.
Laipeny menyebutkan jika dibandingkan dengan target eliminasi HIV tahun 2030 sesuai Permenkes Nomor 23 Tahun 2022, yaitu kurang dari 7 per 100.000 penduduk, maka kondisi MBD masih jauh dari target. Dengan estimasi penduduk sekitar 80.000 jiwa, angka kasus HIV di MBD berada pada kisaran 12 hingga 20 per 100.000 penduduk.
Laipeny menjelaskan, gonta-ganti pasangan dan perilaku seks bebas, menjadi pemicu utama dalam penularan penyakit tersebut. Apalagi dengan tidak menggunakan pengaman maupun berhubungan seksual sesama jenis.
“Tentu terdapat faktor penularan penyakit tersebut, baik melalui penggunaan jarum suntik yang tidak steril, transfusi darah, kehamilan dan persalinan ibu ke anak, namun perilaku seks bebas yang sangat mempengaruhi tingginya angka penularan penyakit dimaksud,” jelasnya.
Laipeny menerangkan, HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Pada tahap awal, HIV sering tidak menimbulkan gejala sehingga banyak penderita tidak menyadari telah terinfeksi. Seseorang yang terinfeksi HIV namun belum menunjukkan gejala disebut ODHIV (Orang Dengan HIV). Jika virus berkembang dan kekebalan tubuh semakin menurun hingga muncul berbagai infeksi dan gejala berat, maka kondisi tersebut disebut AIDS, yang terbagi dalam empat stadium, dari gejala ringan hingga kondisi sangat berat.
“Jika terdeteksi secara dini dan pasien patuh minum obat, kualitas hidup penderita bisa sangat baik dan tetap produktif seperti orang sehat pada umumnya,” ujarnya.
Laipeny menekankan pentingnya dukungan keluarga dan masyarakat terhadap ODHIV, serta menghindari stigma dan diskriminasi. Menurut dia, HIV tidak menular melalui kontak sosial seperti makan bersama, duduk bersama atau berbincang.
“Pasien sangat membutuhkan dukungan mental, moral, dan akses layanan kesehatan yang berkelanjutan. Obat ARV memang gratis dari pemerintah, tetapi tantangan terbesar adalah akses layanan, terutama bagi pasien di wilayah kepulauan,” katanya.
Untuk menekan laju penyebaran HIV/AIDS, Ia mengajak pemerintah dan masyarakat untuk terus mengampanyekan perilaku hidup sehat, setia pada satu pasangan, penggunaan kondom secara benar, serta menjamin ketersediaan layanan dan pemeriksaan HIV yang mudah diakses.
Laipeny berharap seluruh pemangku kepentingan di Kabupaten MBD terus bersinergi dalam upaya pencegahan dan penanganan HIV/AIDS, serta memastikan keberlanjutan penyediaan obat ARV bagi pasien.
“Kami juga mengimbau para pasien untuk tetap tenang, patuh berobat, tidak putus obat dan mengelola stres dengan baik. Dengan pengobatan teratur, HIV bisa dikendalikan dan kualitas hidup tetap terjaga,” pungkasnya. (RM-05)










Discussion about this post