Referensimaluku.id, Ambon – Beredar player di berbagai media online baik itu FB maupun grub – grub WhatsApp berjudul ” tangkap dan penjarakan Wali Kota Ambon atas penerimaan retribusi dari tambang yang diduga ilegal serta semua pihak yang terlibat dalam dugaan tambang ilegal di Kota Ambon”, menuai kecaman luas dari berbagai pihak.
Player yang ditulis oleh oknum aktivis “abal – abal” Mujahidin Buano dan Usama Rumbow yang akan menurunkan massa aksi 150 orang, padahal yang demo kurang lebih tiga orang.
Oknum – oknum aktivis ini melakukan aksi bukan saja terhadap Wali Kota Ambon tetapi ada beberapa Bupati di Maluku.
Player tersebut juga mendapat tanggapan serius Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena di akun Facebooknya. “Kebebasan berpendapat tidak mengajarkan kita untuk seenaknya membangun narasi tentang seseorang atau jabatannya apalagi terhadap sesuatu hal yang belum dipastikan kebenarannya,” tulis Wattimena.
TANGKAP DAN PENJARAKAN Narasi liar itu lebih tepat ditujukkan kepada seseorang yang telah terbukti bersalah atau telah diputuskan bersalah berdasarkan keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsdezaak).
Jika bahasanya diduga, maka kedepankan Asas Praduga Tak Bersalah, karena semua warga negara memiliki hak yang sama di hadapan hukum.
Gratifikasi berkaitan dengan pemberian sesuatu berupa uang atau barang kepada penyelenggara negara (pribadi) karena jabatan yang diembannya. Retribusi adalah pembayaran atas jasa atau izin kepada pemerintah (lembaga bukan pribadi).
“Sebaiknya kita lebih hati-hati dalam menarasikan sesuatu, apalagi berkaitan dengan nama baik, kenyamanan pribadi dan keluarga. Karena menghakimi seseorang dalam jabatan tidak menghilangkan usur pribadi orang tersebut,” pesan Wattimena.
“Apalagi jika kita yang menarasikan malah mendapat manfaat dari proses yang diinterupsi. Jika yang bersangkutan penyelenggara negara maka lebih tepat yang bersangkutan menerima gratifikasi.
Semoga kita saling menghargai karena hak kita untuk berbuat sesuatu, tetapi hendaknya tidak mengeleminir hak orang lain. Beta Par Ambon…Ambon Par Samua,” tutup Wattimena. (RM-02)










Discussion about this post