Referensimaluku.id, Tiakur – Manajemen Perseroan Terbatas Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Induk Wilayah (UIW) Maluku dan Maluku Utara melalui Unit Layanan Pelanggan (ULP) Moa menyampaikan layanan listrik di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) belum sepenuhnya menyala 24 jam. Dari 18 sistem kelistrikan yang beroperasi, seluruh kecamatan telah teraliri listrik, namun sebagian desa masih menikmati listrik dengan jam nyala terbatas.
Hal itu disampaikan Manajer ULP Moa, Noer Soeratmoko, saat menjelaskan kondisi kelistrikan di wilayah kepulauan MBD. Saat ini, listrik 24 jam baru tersedia di Pulau Moa, Pulau Leti, Pulau Babar, Pulau Liran, dan Pulau Kisar.
“Untuk tingkat kecamatan seluruhnya sudah terjangkau, namun untuk desa memang belum semuanya. Selain itu, tidak semua sistem menyala 24 jam,” ujar Noer.
Sementara itu, beberapa wilayah lainnya masih berada pada pola layanan terbatas.
Pulau Damer masih menikmati listrik 6 jam per hari, demikian pula wilayah Roma dan Kota Kuda, yang masih berada pada kategori jam nyala rendah.
Peningkatan Jam Nyala Dilakukan Bertahap
Terkait rencana peningkatan layanan listrik, Noer menjelaskan bahwa ULP berperan sebagai pelaksana operasional, sementara kebijakan peningkatan jam nyala ditetapkan di tingkat manajemen yang lebih tinggi.
Meski demikian, PLN tetap menyiapkan peningkatan layanan secara bertahap, mulai dari 6 jam ke 12 jam, hingga menuju 24 jam.
“Kalau mau menaikkan jam nyala di suatu lokasi, semua harus dipersiapkan, terutama mesin pembangkit dan jaringannya,” jelasnya.
Untuk awal tahun ini, kata dia, pola layanan listrik masih berjalan seperti biasa karena perencanaan peningkatan jam nyala masih dalam tahap penyusunan.
Kapasitas Listrik Moa Masih Surplus
Khusus untuk Pulau Moa, kapasitas pembangkit dinilai masih mencukupi. Saat ini, daya terpasang mencapai sekitar 2,9 megawatt, dengan surplus sekitar 1,2 megawatt dari beban puncak.
“Kapasitas mesin masih aman. Kita masih surplus dan siap melayani penambahan beban, termasuk jika ke depan ada investor yang masuk,” kata Noer.
Gangguan Didominasi Faktor Internal
Dari sisi jaringan, gangguan listrik yang terjadi di lapangan lebih banyak disebabkan oleh faktor internal, seperti kondisi peralatan yang sudah tidak optimal dan membutuhkan penggantian.
“Gangguan yang sering terjadi itu berasal dari peralatan yang sudah tua,” ujarnya.
Sementara gangguan dari aktivitas masyarakat, seperti penebangan pohon yang mengenai jaringan listrik, saat ini belum ditemukan, meski pada tahun-tahun sebelumnya sempat terjadi.
Perbaikan Jaringan Bertahap PLN ULP Moa juga telah mengajukan usulan perbaikan jaringan ke unit di atasnya. Namun, pelaksanaannya dilakukan secara bertahap, menyesuaikan dengan ketersediaan anggaran.
“Tidak bisa langsung semuanya. Kita lakukan secara parsial dan memprioritaskan peralatan yang memang sudah layak diganti,” katanya.Wilayah Pulau Babar disebut menjadi salah satu daerah dengan tantangan cukup berat karena akses jalan yang terbatas dan kondisi geografis yang menyulitkan proses perawatan jaringan.
Penyesuaian Tenaga Operasional
Terkait sumber daya manusia, Noer menyebutkan bahwa jumlah tenaga operasional saat ini disesuaikan dengan jam nyala listrik di masing-masing wilayah. Jika ke depan terjadi peningkatan jam nyala, maka penyesuaian jumlah tenaga juga akan dilakukan.
“Sesuai jam nyala. Kalau jam nyala bertambah, berarti ada penyesuaian tenaga,” tutupnya. (RM-02)










Discussion about this post