Referensimaluku.id, Bebar Timur, — Pelayanan kesehatan di UPTD Puskesmas Bebar Kumur, Kecamatan Damer, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), Maluku, menuai sorotan tajam masyarakat. Seorang pasien bernama Mostestus Rumpopoi alias Etus diduga mengalami penolakan dan penelantaran pelayanan medis hingga akhirnya meninggal dunia.
Informasi yang diperoleh Referensimaluku.id dari pihak keluarga korban menyebutkan, peristiwa bermula pada 2 Desember 2025 sekira Pukul 08.00 WIT.
Saat itu, keluarga Montestus Rumpopoi menghubungi dokter yang sebelumnya melakukan tindakan operasi, penjahitan luka yang dialami almarhum.
Pihak Keluarga menyampaikan bahwa Etus Rumpopoi mengalami pendarahan hebat dari bekas jahitan dan berencana secepatnya dapat membawa pasien ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan lanjutan.
“Kami sampaikan ke ibu dokter bahwa darah keluar banyak dari jahitan dan kami mau bawa pasien ke puskesmas,” tutur Ulis Leinussa, pihak keluarga korban, Sabtu (13/12/2025).
Menurut Ulis, dokter yang bersangkutan menolak pasien dibawa ke puskesmas pada hari itu dan meminta agar pasien baru datang keesokan harinya dengan alasan akan menghadiri acara pernikahan rekan kerjanya.
“Jawaban ibu dokter, besok saja datang ke puskesmas,” ungkap Ulis, menirukan pesan WhatsApp dokter tersebut.
Keesokan harinya, pada 3 Desember 2025 sekira Pukul 08.00 WIT, keluarga akhirnya membawa Etus Rumpopoi dari Bebar Barat menuju UPTD Puskesmas Bebar Kumur. Setibanya di puskesmas, pasien sempat mendapat penanganan awal oleh seorang petugas kesehatan.
“Kami bertemu dengan mantri yang biasa disapa Pak Guntur,” kata Ulis.
Namun, penanganan tersebut diduga tidak berjalan maksimal karena keterbatasan fasilitas, khususnya tidak adanya penerangan listrik. Keluarga pasien bahkan mengusulkan untuk menyediakan genset dari rumah mereka di Desa Bebar Barat, dan usulan itu sempat disetujui oleh petugas puskesmas.
“Saya bilang rumah saya ada genset, kalau sepakat saya ambil,” jelas Ulis.
Ironisnya, kesepakatan tersebut diduga tidak direalisasikan. Pihak puskesmas justru meminta agar pasien keluar dari puskesmas dengan alasan jam pelayanan akan segera berakhir.
“Saya ditelepon bapak almarhum. Katanya disuruh keluar karena puskesmas mau tutup jam satu siang,” ungkap Ulis dengan nada kesal.
Setelah dipulangkan, kondisi pasien dilaporkan semakin memburuk. Sekira pukul 03.00 WIT, keluarga kembali berupaya menghubungi dokter dan perawat, namun tidak mendapat respons positif hingga pagi hari.
“Kami panggil dokter dan perawat dari jam tiga subuh sampai jam sembilan pagi. Baru perawat datang. Dan saat perawat tiba, pasien sudah meninggal,” ucap Ulis lirih.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak UPTD Puskesmas Bebar Kumur maupun Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Barat Daya belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan penolakan dan penelantaran pelayanan medis yang berujung pada meninggalnya Montestus Rumpopoi. (RM-05)










Discussion about this post