REFMAL.ID, AMBON– Baru seminggu dilakukan seremonial atau peletakan batu pertama pembangunan fisik (“ground breaking”) terminal pelabuhan Yosafat Ignatius Soerdarso baru yang lebih modern, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Regional IV Ambon didemo puluhan pedagang asongan.
Pedagang asongan menggandeng Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Maluku menggelar aksi demonstrasi ke manajemen PT Pelindo, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) dan perwira Tentara Nasional Indonesia yang di-BKO (Bawah Kendali Operasi) sebagai Liaison Officer (LO) atau naradamping dengan tuntutan agar pedagang asongan bisa berjualan lagi di area pelabuhan dan naik di atas kapal.
GM Pelindo Regional 4 Ambon, Zahlan mengakui para pendemo yang mayoritas para pedagang asongan datang ke pihaknya untuk meminta akses berjualan di pelabuhan dan atas kapal.
“Namun kita berpegang teguh terhadap regulasi dan standar keamanan di kapal,” tegas Zahlan ketika dikonfirmasi Referensimaluku.id di ruang kerjanya, Kamis (7/8/2025).
Lebih lanjut, Zahlan menegaskan bahwa pelabuhan merupakan area terbatas untuk embarkasi dan debarkasi dan hanya pihak tertentu saja yang berada di area tersebut.
Zahlan menambahkan pihaknya tetap mendukung aktivitas pedagang di pelabuhan dengan bermitra dengan 35 pedagang kaki lima (PKL) yang terdaftar di PT Pelindo.
Sementara itu, untuk pedagang asongan dilarang berjualan di ruang tunggu, dermaga, maupun naik ke atas kapal secara tegas tidak diperkenankan.
“Pelindo melarang asongan masuk ke area lini satu pelabuhan, karena mereka bukan mitra kami. Pedagang asongan tetap di luar saja,” tutup Zahlan. (RM-03)










Discussion about this post