Referensimaluku.id,–Ambon– Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menyimpan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Maluku. Dua pemain berdarah Maluku tercatat tampil di turnamen paling bergengsi di dunia itu, yakni Tijjani Reijnders yang membela Belanda dan Godfried Roemeratoe yang memperkuat Curacao.
Tijjani Reijnders bukan nama asing bagi pecinta bola Tanah Air. Gelandang Manchester City itu memiliki darah campuran; ayahnya berasal dari Belanda, sementara ibunya, Angelina Lekatompessy, memiliki darah Ambon, Maluku. Faktor keturunan tersebut sempat membuatnya dikaitkan dengan Timnas Indonesia, bahkan pada awal 2022 pelatih Shin Tae-yong sempat meminta PSSI untuk menaturalisasinya. Namun Tijjani memilih mengejar karier internasional bersama Belanda.
Pilihan itu terbukti tepat. Ia menjadi pilar tak tergantikan di lini tengah Belanda setelah tampil impresif dengan sumbangan 2 gol dan 1 assist sepanjang babak kualifikasi. Kehadiran gelandang berdarah Maluku itu di skuad Belanda membuat banyak pecinta sepak bola Tanah Air ikut memberikan perhatian besar terhadap perjalanan De Oranje di turnamen dunia.
Di sisi lain, nama Godfried Roemeratoe mungkin belum sepopuler Tijjani, namun kisahnya tak kalah membanggakan. Roemeratoe lahir di Oost-Souburg, Belanda, pada 19 Agustus 1999. Meski lahir dan besar di Belanda, darah Maluku tetap mengalir dalam dirinya, tepatnya dari Pulau Seram. Ia adalah gelandang bertahan yang pernah tampil untuk tim nasional Belanda di level U-17 dan U-20 sebelum akhirnya menerima panggilan dari Curacao.
Roemeratoe masuk dalam skuad Curacao untuk Piala Dunia 2026 sebagai gelandang, bersama sejumlah nama seperti Juninho Bacuna, Leandro Bacuna, dan Livano Comenencia. Kehadirannya di turnamen dunia semakin istimewa mengingat Curacao sendiri tengah menuliskan sejarah. Negara kepulauan kecil di Karibia itu resmi mencatat sejarah besar usai memastikan tempat di Piala Dunia 2026 untuk pertama kalinya, setelah memuncaki klasemen Grup B Kualifikasi Zona CONCACAF dengan koleksi 12 poin. Pencapaian tersebut bahkan dicatat oleh Guinness World Records sebagai negara dengan populasi terkecil yang pernah lolos ke putaran final Piala Dunia FIFA.
Di balik gegap gempita Piala Dunia 2026, ada satu kisah yang menyentuh hati masyarakat Maluku. Tijjani dan adik kandungnya, Eliano Reijnders, sempat memimpikan pertemuan bersejarah di panggung dunia dua bersaudara berdarah Maluku, membela dua negara berbeda. Tijjani sendiri pernah mengungkapkan mimpi itu:
“Saya rasa itu akan benar-benar fantastis. Itu adalah mimpi tertinggi sekarang. Saya berharap adik saya lolos ke Piala Dunia bersama Timnas Indonesia.”
Namun mimpi itu pupus setelah langkah Indonesia terhenti di putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.
Meski begitu, kehadiran Tijjani Reijnders dan Godfried Roemeratoe di Piala Dunia 2026 tetap menjadi kebanggaan tersendiri bagi Maluku. Darah tanah rempah itu kini bukan hanya mengalir di kampung halaman — ia juga berdenyut di panggung sepak bola terbesar di dunia. (RM-06)








Discussion about this post