Referensimaluku.id ,-AMBON-– Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Ambon terus berinovasi dalam program pembinaan kemandirian bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP).
Kali ini, lembaga penegak hukum di bawah Kementerian Hukum dan HAM tersebut meluncurkan program unggulan pemanfaatan limbah batok kelapa yang disulap menjadi berbagai produk kerajinan bernilai estetika dan ekonomis tinggi. Program ini resmi diluncurkan pada Senin (4/5/2026).
Langkah kreatif ini mengubah pandangan terhadap limbah batok kelapa yang selama ini sering terabaikan. Di tangan para warga binaan, bahan baku sederhana tersebut diolah melalui proses teliti—mulai dari pengumpulan, pembersihan, pengeringan, pemotongan, hingga finishing—menjadi produk siap jual seperti hiasan rumah, peralatan dapur, dan aksesori seni.
Plt. Kepala Rutan Ambon, Jefry Persulessy, menjelaskan bahwa program ini bukan sekadar aktivitas mengisi waktu, melainkan bagian integral dari pembinaan kemandirian yang berorientasi pada pemberdayaan berkelanjutan.
“Pemanfaatan limbah batok kelapa ini merupakan bentuk inovasi dalam pembinaan. Kami ingin warga binaan tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga mampu melihat peluang ekonomi dari hal-hal sederhana di sekitar mereka. Harapannya, keterampilan ini dapat menjadi bekal nyata ketika mereka kembali ke masyarakat,” ujar Jefry.
Lebih Dari Sekadar Keterampilan: Membangun Karakter
Program ini dirancang dengan pendampingan intensif oleh petugas dan instruktur berpengalaman. Selain mengasah kreativitas, proses produksi yang bertahap menuntut ketelitian, kesabaran, dan disiplin. Hal ini secara tidak langsung membentuk karakter positif warga binaan, seperti tanggung jawab, kerja sama, dan ketekunan.
“Setiap tahapan pengerjaan menuntut ketelitian dan kesabaran, sehingga membentuk sikap mental yang lebih siap menghadapi kehidupan di luar rutan. Mereka belajar bahwa karya yang dihasilkan memiliki nilai, baik secara fungsi maupun estetika,” tambah Jefry.
Peluang Pasar dan Harapan Baru
Produk kerajinan hasil karya warga binaan Rutan Ambon dinilai memiliki daya saing dan potensi pasar yang menjanjikan, baik melalui pameran rutin maupun kerja sama dengan pihak ketiga. Keberadaan produk ini juga membuka wawasan ekonomi bagi para WBP tentang bagaimana sebuah karya dapat dihargai secara finansial.
Melalui inovasi ini, Rutan Ambon menegaskan komitmennya untuk menghadirkan program pembinaan yang produktif dan berdampak positif. Karya-karya dari batok kelapa tersebut menjadi simbol harapan bahwa di balik keterbatasan fisik di balik jeruji besi, warga binaan tetap mampu berkarya, berinovasi, dan mempersiapkan diri untuk reintegrasi sosial sebagai individu yang mandiri dan produktif.
“Program ini sekaligus menjadi simbol harapan, bahwa setiap proses pembinaan mampu melahirkan perubahan positif serta menciptakan nilai dari hal-hal sederhana yang sebelumnya terabaikan,” pungkas Jefry Persulessy. (RM-06)








Discussion about this post