Referensimaluku.id, -AMBON-
Oleh : Dr. M.J. Latuconsina, S.IP, MA
Staf Dosen Fisipol, Universitas Pattimura
“..aku percaya pada sebuah takdir yang didapatkan manusia dengan bertindak.” (Siddhattha Gotama 450-370 SM)
***
Masih teringat saya dan sahabat saya Achdjam Syahfan Umasugi, yang biasa disapa Ifan. Ia yang berdiri disamping saya, mengenakan dasi berwarna biru muda bercorak garis hitam, dengan kemeja putih dibaluti setelah jas, dan celana panjang berwarna hitam, nampak necis gayanya. Dahulu di tahun 2002, saat Ambon masih berkecamuk konflik horisontal, kita sama-sama berprofesi sebagai wartawan. Ketika itu, kita berdua bekerja di media cetak yang sama.
Media cetak itu yakni, Harian Koran Info, yang baru resmi dicetak dan terdistribusi kepada khalayak di Maluku pada tahun 2002. Media cetak ini dihandle oleh duet Touwe bersaudara, dimana pemilik Harian Koran info yakni, Dade Touwe. Sedangkan Pimpinan Redaksi (Pimpred) nya saat itu Mochtar Touwe. Alamat redaksinya di Pertokoan Mardika, berhadapan dengan Hotel Wijaya 2. Redaksinya kini telah ditempati Toko UD Aqilla, yang mendagangkan kebutuhan pokok.
Ada suatu kisah yang tidak pernah saya lupa hingga saat ini, ketika saya dan Ifan pulang bekerja dari redaksi Koran Info di malam hari. Kita searah tujuan, karena kediaman kita tidak berjauhan, ia di Silale saya di Jalan Pengeringan Pantai Waihaong. Kita melewati pos aparat yang berada di Terminal Mardika Blok A1, tidak jauh dari Bank Centeral Asia Kantor Cabang Pembantu (BCA KCP) Mardika di Jalan Pantai Mardika saat ini.
Para pengendara kendaraan roda dua (motor), jika melewati pos aparat tersebut, wajib mematikan lampu hingga sampai di jembatan muara sungai Wae Tomu. Kita pernah mendengar ada teman-teman dekat kita, yang menyalakan lampu saat melewati pos aparat itu. mereka pun dihukum aparat dengan squat jump, hingga seputaran paha, lutut dan kaki mereka terasa pegal sekali.
Lantaran kita berdua kuwatir kena pembinaan dengan squat jump oleh aparat, maka saat melewati pos aparat tersebut, saya katakan kepada Ifan dalam dialeg Melayu Ambon, “kawan kasi mati lampu”, ia pun menuruti arahan saya.
Tapi ia mengatakan “kawan beta seng dapa lia galap e, lampu motor mati ini.” Ia bertanya “lurus ka ?”, saya mengatakan “lurus tamang jalan palang-palang saja”. Kembali Ifan bertanya lagi “su sampe ka ? “. Saya jawab “sadiki lai kawan katong su sampe”. Pada akhirnya kita berdua pun menggapai ujung jembatan di muara sungai Wae Tomu, yang disebelahnya kini lokasi pasar buah-bauhan.
Rupanya mata kawan saya Ifan, jika malam tidak bisa melihat dengan jelas, kecuali kalau ada lampu jalan, atau lampu kendaraan bermotor, yang cahayanya bisa menerangi jalan, baru ia bisa melihat dengan jelas. Melewati jembatan di hilir sungai Wae Tomu perasaan kita berdua sama-sama plong, dimana terbebas dari rasa kuatir terkena hukuman dari aparat di posnya.
***
Tahun 2003 kami berdua hijrah menjadi wartawan di Harian Ambon Ekspres. Tidak lama bekerja Ifan memilih resign (mengundurkan diri), setelah itu, ia pergi ke Namlea mengikuti tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), akhirnya karib saya ini lulus dan menjadi PNS di Kabupaten Buru. Sementara saya masih menjadi kuli tinta di media cetak terbesar di Provinsi Maluku tersebut.
Di penghujung tahun 2004, saya mengikuti tes CPNS untuk menjadi dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Pattimura (Fisip Unpatti). Nasib saya serupa dengan karib saya Ifan, dimana juga lulus tes CPNS hingga menjadi PNS. Pertengahan tahun 2005 saya lanjutkan studi pada Sekolah Pascasarjana (S2) Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta.
Setahun kemudian saya pakansi ke Ambon. Usai liburan saya balik tidak sendirian, tapi bersama dengan Ifan. Sebelumnya ia katakan ke saya bahwa, ia mau studi lanjut magister di Sekolah Pascasarjana (S2) Politik Lokal dan Otonomi Daerah (Polotda), UGM. Saya mengantarkannya tes masuk. Tak lama kemudian Ifan dinyatakan lulus, dan memulai perkuliahannya. Di kota gudeg itu kami mendiami kosan yang sama di Jalan Kenari, Gang Madusari yang berada di kawasan Jalan Kaliurang Km 4,5.
Di penghujung tahun 2008 saya menuntaskan kuliah magister Ilmu Politik di Sekolah Pascasarjana (S2) Ilmu Politik UGM. Setahun berikutnya Ifan menyusul menuntaskan kuliah magister Polotda di Sekolah Pascasarjana (S2) Ilmu Politik UGM. Setelah kembali, kita disibukan dengan aktifitas masing-masing. Hingga pada suatu hari di tahun 2022, usai saya menyelesaikan studi pada Program Doktor Administrasi Publik di Universitas Negeri Makassar (UNM), di Kota Anging Mamiri itu, berdering ponsel saya.
Saya pun menerima panggilan itu diponsel, disebarang terdengar suara tidak asing, suara karib baik saya Ifan. Ia sampaikan hendak lanjutkan studi pada Program Doktor Ilmu Hukum di Pascasarjana Universitas Pattimura (Unpatti). Saya merespons serta memotivasinya, untuk segera mendaftar dan kuliah. Rencananya itu, tidak sekedar wacana, ia benar-benar kuliah S3 pada Program Doktor Ilmu Hukum di Pascasarjana Unpatti.
***
Pada Kamis (17/04/2026) minggu lalu, klimaks kebahagiaannya, dimana kawan saya Ifan sukses meraih doktor Ilmu Hukum pada Program Doktor Ilmu Hukum di Pascasarjana Unpatti, dengan predikat nilai sangat memuaskan. Ia mendapat nilai ini dari para tim penguji, lantaran ia mampu mempertanggungjawabkan disertasinya, dengan judul: “Politik Identitas Dalam Sistem Pemilihan Umum Kepala Daerah di Negara Hukum yang Demokratis”, secara lugas dan substansial dihadapan para tim penguji.
Tidak sia-sia upayanya yang gigih disertai kesabaran dan diiringi doa, ia pun sukses menggapai titel tertinggi itu. Tidak banyak Aparatur Sipil Negara (ASN) level eselon tinggi sepertinya, yang bergelar doktor di jajaran Pemerintah Kabupaten Buru. Tentu ini suatu kebanggan bagi dirinya bersama keluarganya. Meskipun ditengah kesibukannya sebagai ASN di Bumi Bupolo, yang letaknya jauh dari kampus Pascasarjana Unpatti di Kota Ambon, tapi ia masih meluangkan waktu untuk menempuh Program Doktor Ilmu Hukum.
Pada akhirnya kita berdua sahabat dekat, kini sama-sama bergelar doktor, dimana dahulunya di tahun 2002 kita sama-sama berprofesi sebagai wartawan. Akhirulkalam meminjam ungkapan Siddhattha Gotama (450-370 SM) bahwa, “..aku percaya pada sebuah takdir yang didapatkan manusia dengan bertindak.” Maknanya bahwa, pencapaian didasari dengan bertindak serius, untuk mengejar impian, agar terwujud. (***)










Discussion about this post