Referensimaluku.id, – AMBON-
Oleh: Abdul Fattah Nur (Cecep)
Ada sebuah romansa tersendiri ketika berbicara tentang penerbang militer, khususnya mereka yang mengawaki “raksasa” bermesin empat seperti C-130 Hercules. Bukan sekadar soal menerbangkan mesin, tapi soal nyali, presisi, dan kemanusiaan yang terbangun di atas awan. Kisah Kolonel Pnb Sugeng Sugiharto, S.Sos., M.M., adalah potret nyata dari romansa tersebut.
Kini, setelah nearly tiga dekade mengabdi, tongkat komando Lanud Pattimura resmi berpindah tangan pada 23 April 2026 kepada Kolonel Pnb Adhi Saratul. Namun, sebelum ia melangkah ke tugas baru sebagai Waaspers Kaskoopsudnas, ada jejak panjang yang patut kita catat, bukan hanya sebagai biografi seorang perwira, tapi sebagai cermin dedikasi bagi Indonesia Timur.
Lebih dari Sekadar Pilot Angkut
Banyak orang mungkin menganggap penerbang angkut sebagai “tukang antar” logistik militer. Pandangan itu keliru. Bergabung dengan Skuadron Udara 31 di Halim Perdanakusuma pasca-lulus Akabri 1998, Sugeng ditempa dalam standar yang jauh melampaui penerbangan sipil.
Dari low level flight yang menegangkan hingga penerjunan logistik (CDS) dan pasukan terjun bebas, setiap misi menuntut ketenangan mental tingkat tinggi. Ia bukan hanya menerbangkan pesawat; ia mengelola risiko di udara yang tidak bisa ditawar. Kualifikasinya sebagai instruktur penerbang pun membuktikan bahwa ia telah melewati tahap “turut serta” menuju tahap “menguasai”.
Manusia di Balik Kemudi Saat Dunia Memanas
Poin paling menyentuh dari karier Sugeng bukanlah pangkat yang disandangnya, melainkan misinya ke Lebanon. Di tengah wilayah konflik yang panas, ia membawa Hercules—pesawat raksasa yang rentan—melintasi langit Pakistan yang dikawal jet tempur.
Misi itu bukan operasi tempur, melainkan misi kemanusiaan: mengirim perpustakaan keliling untuk anak-anak korban konflik. Ini adalah wajah lain TNI AU yang sering luput dari sorotan kamera. Sugeng mengingatkan kita bahwa kekuatan udara juga berfungsi untuk merajut harapan, bukan hanya menghancurkan musuh. Pengalaman melintasi Samudra Pasifik dengan Hercules, sebuah rute ekstrem yang jarang dilalui pesawat komersial, semakin menegaskan ketangguhan mentalnya.
Menaklukkan Medan Sulit, Merajut Nusantara
Indonesia adalah negara kepulauan dengan tantangan geografis yang unik. Sugeng telah mendaratkan Hercules di Sabang yang sempit layaknya deck kapal induk, hingga Wamena yang dikelilingi pegunungan curam.
Namun, bagi Sugeng, Ambon memiliki tempat khusus. Cuaca dinamis, angin kencang, dan obstacle di sekitar runway menjadikan Pattimura salah satu landasan paling menantang. Fakta bahwa ia memilih Ambon sebagai pos akhir sebelum mutasi menunjukkan kepercayaan dirinya dan kecintaannya pada tantangan. Ia tidak menghindari kesulitan; ia menjadikannya rumah.
Visi Strategis dan Pesan Damai
Sebagai Danlanud Pattimura, Sugeng tidak hanya duduk di belakang meja. Ia memahami posisi strategis Ambon di ALKI III (Alur Laut Kepulauan Indonesia). Visinya untuk mengembangkan Bandara Pattimura menjadi hub internasional penuh dengan perpanjangan runway adalah langkah konkret menjadikan Maluku bukan sekadar daerah transit, tapi pusat ekonomi dan pertahanan.
Di sisi sosial, kehadirannya terasa melalui program ketahanan pangan dan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi). Ini adalah pendekatan soft power yang cerdas: militer hadir bukan sebagai sosok yang menakutkan, tapi sebagai mitra dalam kesejahteraan.
Pesan terakhirnya sebelum serah terima jabatan pada 23 April 2026 lalu sangat sederhana namun mendalam: “Jangan sampai kita diadu domba.” Di tanah yang pernah mengalami luka akibat konflik horizontal, pesan ini bukan basa-basi. Ini adalah pengingat bahwa persatuan adalah harga mati.
Epilog: Warisan yang Terbang Tinggi
Serah terima jabatan kepada Kolonel Pnb Adhi Saratul menandai babak baru bagi Lanud Pattimura. Namun, warisan Sugeng Sugiharto—tentang profesionalisme, kemanusiaan, dan komitmen pada persatuan—akan tetap melayang di atas langit Maluku.
Ia pergi dengan Bintang Yudha Dharma Nararia di dada, anugerah tertinggi dari Presiden Prabowo pada Oktober 2025. Tapi bagi warga Ambon, penghargaan terbesarnya mungkin adalah rasa aman dan bangga memiliki seorang pemimpin yang tidak hanya piawai mengendalikan Hercules, tapi juga hati masyarakatnya.
Terima kasih, Kolonel Sugeng. Langit Nusantara akan selalu mengenang jejak sayapmu.. (***)








Discussion about this post