Referensimaluku.id, -AMBON – Wajah pengelolaan persampahan di Kota Ambon mengalami transformasi drastis pada tahun 2025-2026. Di bawah kepemimpinan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan (DLHP) Apries Gaspersz, kota yang dikenal sebagai “Kota Manise” ini tidak lagi sekadar fokus pada kebersihan visual, melainkan bertransformasi menjadi sistem pengelolaan limbah yang efisien, higienis, dan berteknologi tinggi. Perubahan ini menjadikan Ambon siap bersaing dengan standar kota-kota modern di Asia Tenggara.
Revolusi Logistik: Armada “Flotilla” untuk Medan Berbukit
Salah satu inovasi paling mencolok adalah penerapan solusi smart mobility melalui pengadaan 10 unit Mini Dump Truck atau yang dijuluki “Flotilla”. Kendaraan ini dirancang khusus untuk menjawab tantangan topografi Ambon yang berbukit dan memiliki gang-gang sempit.
“Dengan armada ini, kami mampu menjangkau 24 titik pemukiman di area perbukitan yang sebelumnya sulit diakses truk besar. Ini menciptakan layanan door-to-door yang efisien, mirip dengan sistem di Singapura,” ujar Apries Gaspersz, Minggu (19/4/2026).
Inovasi ini secara signifikan mengurangi kemacetan lalu lintas akibat antrean truk sampah besar dan memastikan warga di daerah terpencil mendapatkan layanan yang sama baiknya dengan warga di pusat kota.
Teknologi Canggih di TPA Toisapu: MRF dan RDF
Di sisi hilir, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Toisapu kini mengadopsi teknologi Low Carbon ala kota global. Melalui sinergi hibah Bappenas dan anggaran APBD, Ambon telah membangun fasilitas Material Recovery Facility (MRF) untuk penyortiran sampah bernilai ekonomis secara otomatis, serta instalasi Refuse Derived Fuel (RDF) untuk mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif.
“Sistem ini memastikan hanya residu akhir yang masuk ke landfill. Dampaknya, umur operasional TPA Toisapu dapat diperpanjang hingga satu dekade mendatang. Ini adalah wujud nyata komitmen Wali Kota Bodewin Wattimena untuk membawa Ambon setara dengan Tokyo atau Seoul dalam hal zero waste dan ekonomi sirkular,” tegas Apries.
Disiplin baru juga diterapkan melalui jadwal pemilahan sampah rumah tangga yang terintegrasi: sampah organik diangkut pada Senin, Rabu, Jumat, sedangkan sampah anorganik pada Selasa, Kamis, dan Sabtu.
Kolaborasi Masyarakat: Gotong Royong Era Digital
Keberhasilan transformasi ini tidak lepas dari perubahan paradigma masyarakat. DLHP berhasil membangun ekosistem kolaboratif yang melibatkan AMGPM, remaja masjid, Organisasi Kepemudaan (OKP), LSM, dan berbagai komunitas. Warga kini dilibatkan secara aktif melalui aplikasi pelaporan sampah digital dan berbagai event komunitas, menciptakan model gotong royong yang adaptif terhadap era digital.
“Dengan birokrasi yang lincah (agile) dan partisipasi publik yang kuat, Ambon telah bermetamorfosis. Kita bukan lagi kota tradisional, melainkan metropolis hijau yang inovatif, higienis, dan berorientasi masa depan,” pungkas Apries.
Langkah strategis ini membuktikan bahwa dengan kombinasi teknologi tepat guna, manajemen profesional, dan kesadaran masyarakat, Kota Ambon mampu mengatasi tantangan persampahan kompleks sekalipun. (RM-06/04)








Discussion about this post