Referensimaluku. Id, -AMBON – Semangat baru menyelimuti dunia futsal Maluku. Seleksi Tim Nasional (Timnas) U-17 zona Maluku yang digelar melalui program Talent Detection Federasi Futsal Indonesia (FFI) di Lapangan HKFC Tantui, Jumat (17/4/2026), bukan sekadar ajang pencarian bakat sesaat. Event ini menjadi titik awal dari sebuah peta jalan (roadmap) ambisius yang dirancang oleh Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Asosiasi Futsal Maluku, Gregorius Batara Sutardi, untuk membangun ekosistem futsal yang berkelanjutan di Bumi Raja-Raja.
Dalam sambutannya di hadapan perwakilan Gubernur Maluku, Walikota Ambon, serta jajaran KONI dan Dispora, Gregorius menegaskan bahwa visi Asosiasi Futsal Maluku melampaui batas-batas provinsi.
“Kegiatan seleksi ini merupakan bagian penting dalam upaya menjaring bibit unggul. Namun, target kami bukan hanya mengirimkan pemain ke Timnas. Kami sedang merancang strategi besar mulai dari level grassroot (akar rumput) hingga puncak prestasi nasional,” ujar Gregorius dengan penuh keyakinan.
Strategi Tiga Program Pilar : Timnas, Popmal, dan PON 2029
Gregorius membeberkan tiga pilar utama dalam peta jalan pembinaan futsal Maluku ke depan. Pertama, terus berupaya melahirkan pemain berkualitas untuk memperkuat Timnas Indonesia di berbagai kategori usia. Kedua, mempersiapkan skuad tangguh untuk ajang Pesta Olahraga Maluku (Popmal). Dan ketiga, yang paling ambisius, adalah mempersiapkan atlet unggulan untuk menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI di Nusa Tenggara Barat pada tahun 2029.

“Target saya sebetulnya bukan hanya Timnas. Kita akan berkolaborasi erat dengan Pemerintah Provinsi Maluku untuk mempersiapkan atlet menghadapi Popmal dan puncaknya, PON di NTB 2029 nanti. Ini adalah komitmen jangka panjang yang harus kita mulai sekarang,” tegas Gregorius.
Untuk mewujudkan target PON 2029 tersebut, Asosiasi Futsal Maluku berencana menggelar program rutin berbasis sekolah. “Saya akan mengadakan turnamen antarsekolah tingkat SMP dan SMA. Rencananya kegiatan ini digelar pada Juni atau Juli saat anak-anak libur sekolah. Tujuannya agar bakat-bakat pelajar terekspos sejak dini dan tidak terlewat oleh sistem,” rincinya.
Evaluasi Lapangan: Kendala Transportasi dan Jadwal
Meski optimis, Gregorius juga melakukan evaluasi jujur terhadap pelaksanaan seleksi kali ini. Ia mengakui bahwa banyak talenta potensial dari kabupaten/kota luar Kota Ambon yang tidak dapat hadir akibat bentrok dengan jadwal ujian sekolah dan keterbatasan akses transportasi antar-pulau.
“Sebetulnya peminatnya sangat banyak, tetapi terkendala ujian sekolah dan transportasi menuju ke Kota Ambon. Sehingga banyak bibit-bibit futsal yang belum bisa mengikuti kegiatan ini. Ini menjadi catatan penting bagi kami,” akunya.
Menyikapi hal tersebut, Gregorius berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin setiap tahun dengan koordinasi yang lebih baik bersama pemerintah daerah terkait solusi transportasi dan penjadwalan. “Semoga kegiatan ini bisa berjalan rutin setiap tahun, mungkin saat liburan sekolah, agar jaringannya lebih luas dan merata hingga ke pulau-pulau terluar,” harapnya.
Fokus Pengembangan Putra dan Rencana Kategori Putri
Terkait kategori peserta, Gregorius menjelaskan bahwa seleksi kali ini difokuskan pada pemain putra karena pertimbangan kematangan basis atlet saat ini. “Tadinya buat putri juga, cuman ya potensi putri di provinsi ini belum ada yang cukup terkumpul. Jadi mudah-mudahan ke depan, setelah ada pembinaan intensif, selain putra, ada putri juga yang bisa ikut,” jelasnya.
Selain seleksi pemain, agenda dua hari ini juga diisi dengan coaching clinic untuk para pelatih lokal. “Hari kedua, selain seleksi, kami akan melakukan pelatihan buat pelatih-pelatih futsal berlisensi untuk meng-upgrade pengetahuan mereka. Apa sih yang diinginkan dari seorang pemain modern? Ini penting agar standar pembinaan di daerah sama dengan standar nasional,” tambah Gregorius.
Harapan Lahirkan Sejarah Baru
Di akhir sesi, Gregorius menyampaikan harapan besarnya agar seleksi yang dipantau langsung oleh Pelatih Kepala Timnas, Hector Souto, ini membuahkan hasil nyata.
“Coach Hector melihat talenta-talenta timur itu kuat secara fisik dan mental. Sayangnya, saat ini belum ada perwakilan Maluku di skuad Timnas U-17. Saya sangat berharap lewat seleksi ini, ada satu atau dua anak Maluku yang terpilih. Itu akan menjadi sejarah baru dan pembuktian bahwa peta jalan yang kita bangun sudah di arah yang benar,” pungkas Gregorius menutup pernyataannya.
Dengan peta jalan yang jelas, mulai dari turnamen sekolah, peningkatan kualitas pelatih, hingga target konkret di PON 2029, Asosiasi Futsal Maluku di bawah pimpinan Gregorius Batara Sutardi tampak serius ingin mengubah status Maluku dari sekadar “potensi” menjadi “produsen” talenta futsal nasional. (RM-06)










Discussion about this post