Referensimaluku.id, -Ambon — Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Ambon terus menunjukkan komitmennya dalam membina kemandirian warga binaan melalui berbagai kegiatan produktif. Salah satu yang kini menjadi sorotan adalah pemanfaatan tempurung kelapa yang diolah menjadi kerajinan bernilai ekonomi, Jumat (27/3/2026).
Program ini merupakan bagian dari pembinaan kemandirian yang dirancang untuk membekali warga binaan dengan keterampilan praktis. Dengan sentuhan kreativitas, tempurung kelapa yang sebelumnya dianggap limbah berhasil disulap menjadi berbagai produk menarik, mulai dari hiasan, peralatan rumah tangga, hingga souvenir yang memiliki nilai jual.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Rutan Ambon, Jefry Persulessy, menegaskan bahwa program ini tidak hanya berorientasi pada keterampilan teknis, tetapi juga membangun mental dan kepercayaan diri warga binaan.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan warga binaan memiliki bekal nyata saat kembali ke masyarakat. Mereka tidak hanya siap secara mental, tetapi juga punya kemampuan untuk mandiri dan produktif,” ujarnya.
Senada dengan itu, Kepala Sub Seksi Bimbingan Kerja, Wa Ode Ena, menjelaskan bahwa tempurung kelapa dipilih karena mudah diperoleh dan memiliki potensi ekonomi yang besar jika diolah dengan tepat.
“Kami mengajarkan proses secara menyeluruh, mulai dari teknik dasar hingga finishing. Targetnya, produk yang dihasilkan tidak hanya bagus, tetapi juga layak dipasarkan,” jelasnya.
Ia menambahkan, program ini juga menjadi bagian dari pembinaan berkelanjutan yang bertujuan membentuk etos kerja, kedisiplinan, serta tanggung jawab warga binaan.
Salah satu warga binaan berinisial H.F mengaku sangat terbantu dengan adanya pelatihan tersebut. Ia kini mampu membuat berbagai kerajinan yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.

“Dulu saya tidak tahu apa-apa soal ini. Sekarang sudah bisa bikin kerajinan sendiri. Ini jadi harapan baru buat saya setelah bebas nanti,” ungkapnya.
Proses pembuatan kerajinan dilakukan secara bertahap, mulai dari pemilihan bahan, pengolahan tempurung, hingga tahap akhir finishing. Antusiasme warga binaan terlihat tinggi, bahkan beberapa di antaranya telah mampu menghasilkan produk dengan kualitas baik dan siap jual.
Program ini diharapkan tidak hanya menjadi sarana pembinaan, tetapi juga membuka peluang usaha bagi warga binaan setelah menyelesaikan masa hukuman. Selain itu, kegiatan ini turut menciptakan suasana positif di dalam rutan dengan menghadirkan aktivitas yang produktif dan bermanfaat.
Melalui inisiatif ini, Rutan Ambon menegaskan perannya bukan sekadar tempat menjalani hukuman, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran dan pengembangan diri. Kreativitas warga binaan menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk tetap berkarya dan menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomi. (RM-06)









Discussion about this post