Referensimaluku. Id, –AMBON – Di tengah gempuran permainan digital dan modern, permainan tradisional Maluku “Buah Kira-kira” kembali diperkenalkan sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya lokal yang mulai tergerus zaman.
Permainan yang identik dengan masyarakat pesisir ini dulunya menjadi salah satu hiburan favorit anak-anak di Maluku. Namun kini, keberadaan buah kira-kira semakin terancam seiring berkurangnya ekosistem alami serta minimnya pengenalan kepada generasi muda.
Meski demikian, permainan ini masih dapat ditemukan di sejumlah wilayah seperti Kecamatan Leitimur di Kota Ambon, Desa Kamarian di Kabupaten Seram Bagian Barat, wilayah pesisir Tanjung Kuako di Kabupaten Maluku Tengah, Pulau Wamar di Kabupaten Kepulauan Aru, hingga Pulau Leti di Kabupaten Maluku Barat Daya.
Salah satu sosok yang aktif menghidupkan kembali permainan ini adalah , Jemi Puturulan. Sejak 2019, ia konsisten melakukan berbagai upaya pelestarian melalui pembentukan komunitas permainan dan olahraga tradisional di Maluku.
Jemi bersama komunitasnya rutin menggelar sosialisasi dan peragaan permainan buah kira-kira di berbagai daerah, seperti di Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku Tengah, Seram Bagian Barat, hingga Kota Ambon. Tak hanya itu, ia juga mendorong penyelenggaraan lomba dalam berbagai event, di antaranya Festival Solohua di Kamarian, festival olahraga tradisional untuk siswa sekolah dasar di Desa Hila, hingga pameran tingkat nasional di Lombok dan .
Upaya tersebut mulai membuahkan hasil. Sejak kembali dikembangkan pada 2019, permainan buah kira-kira kini mulai dikenal di kalangan anak-anak sekolah, mahasiswa, hingga komunitas gereja seperti Sekolah Minggu Tunas Pekabaran Injil dan Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku di Kota Ambon. Bahkan, di tingkat nasional, buah kira-kira mulai diperkenalkan sebagai salah satu permainan tradisional khas Maluku.
Untuk memperkuat eksistensinya, permainan ini juga telah memiliki hak cipta yang terdaftar secara resmi di Kementerian Hukum, sebagai bentuk perlindungan terhadap warisan budaya daerah.
Ke depan, buah kira-kira ditargetkan dapat diakui sebagai warisan budaya tak benda Provinsi Maluku. Hal ini diharapkan dapat mendorong keterlibatan aktif antara masyarakat dan pemerintah dalam menjaga serta mengembangkan permainan tradisional tersebut.
Selain sebagai sarana hiburan, buah kira-kira dinilai memiliki nilai edukasi dan mampu menjadi media pembentukan karakter bagi anak-anak Maluku, sekaligus memperkuat identitas budaya di tengah arus modernisasi. (*)










Discussion about this post