Referensimaluku.id, Ambon – Dayung merupakan salah satu cabang olahraga potensial Maluku yang kerap menyumbang medali emas, perak dan perunggu di setiap pentas Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) hingga Pekan Olahraga Nasional (PON) dalam satu dasawarsa terakhir.
Setidaknya, dari Popnas selalu lahir atlet-atlet dayung berbakat yang kelak membawa panji kebesaran Maluku di PON.
Selama kepemimpinan Anthonius Sihaloho dan Anos Yermias, dayung Maluku berjaya di PON XIX 2016 Jawa Barat. Dari situ, lahir dua raja Rowing Indonesia La Memo dan Chelsea Corputty.
Setelah Anos Yermias mengganti posisi Anthonius Sihaloho di posisi ketua Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) Maluku, prestasi dayung tetap mentereng. Bahkan La Memo yang bakatnya ditemukan Anos Yermias dari Pulau Osi, Kabupaten Seram Bagian Barat, dinobatkan sebagai Raja Rowing Indonesia setelah sukses masuk 16 besar Olimpiade Rio de Janeiro, Brasil 2016.
Dayung masih tetap menjadi cabor yang menyumbang medali emas pertama bagi Maluku di PON XX 2021 Papua. Lagi-lagi melalui La Memo, Chelsea Corputty, Isa Behuku, Maria Bahy dan Arni Pattipeiluhu, Maluku meraih medali emas, perak dan perunggu di PON Papua. Di PON XXI 2024 Aceh dan Sumatera Utara, dayung juga merebut emas melalui Rusdy Ely dan Arni Pattipeiluhu di nomor baru, RBS Coastal Mixed Double kategori Rowing Big Sprint.
Sementara Isa Behuku cs menorehkan perak nomor Rowing double scull puteri di PON 2024 Aceh dan Sumut. Patut diketahui, semua atlet-atlet tadi murni hasil binaan Anos Yermias selama dia menukangi PODSI Maluku.
Setelah Anos meninggalkan PODSI Maluku dan memilih berlabuh di Persatuan Kempo Shorinji Indonesia (Perkemi) Maluku sebagai ketua, dayung Maluku mulai terpuruk, prestasi dayung Maluku lambat laun mulai meredup dan bahkan hancur lebur ketika diurus Muhammad Ilwan Talaohu, Carolis Nirahua, Santos Walalayo dan Novel Elminero.
Buktinya di Kejurnas antarPPLP dan Popnas XVII 2025 Jakarta. Maluku gagal total di dayung, padahal Nirahua adalah Kabid Prestasi Dinas Pemuda dan Olahraga Maluku. Sekalipun gagal tapi Walalayo selalu bertepuk dada soal prestasi La Memo di Sea Games XXXIII 2025 Thailand. Padahal La Memo bukan hasil binaan pengurus PODSI Maluku saat ini yang tak pernah bikin regenerasi.
“Santos (Walalayo) nih kan baru datang dari kampung. Tapi talalu bikin diri tahu segala soal olahraga. Dia tahu apa soal pembinaan dayung Maluku selama ini,” kritik pemerhati olahraga Maluku Herman Siamiloy kepada referensimaluku.id di Ambon, Rabu (28/1).
Siamiloy meminta anggota PODSI Maluku menyampaikan mosi tak percaya ke KONI Maluku atas kegagalan Talaohu, Nirahua, Walalayo dan Elminero mengurus dayung Maluku. “Kalau mau dayung dapat medali di PON 2028 NTT dan NTT, maka ganti Talaohu dan lainnya di PODSI Maluku,” saran Siamiloy. (Tim RM)










Discussion about this post