Referensimaluku.id, -AMBON –Rumah Tahanan Negara (Rutan) II A Ambon, kini bertransformasi menjadi lebih dari sekadar tempat penahanan. Di bawah kepemimpinan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Rutan (Karutan) Kelas I Ambon, Jefry Persulessy, instansi ini tengah gencar menjalankan misi mulia: mengubah warga binaan menjadi individu produktif yang siap bersaing di masyarakat.
Melalui serangkaian Program Kemandirian, Rutan Ambon tidak hanya fokus pada aspek keamanan, tetapi juga pada pemberdayaan sumber daya manusia. Tujuannya jelas, memastikan setiap warga binaan yang bebas nanti membawa bekal keterampilan nyata, bukan sekadar status mantan narapidana.
Mencetak Petani Mandiri dari Lahan Rutan
Salah satu pilar utama program ini adalah sektor pertanian. Jefry menjelaskan bahwa pihaknya telah mengoptimalkan lahan kosong di dalam kompleks Rutan untuk dijadikan kebun percontohan. Warga binaan dilatih secara intensif untuk menanam berbagai komoditas unggulan seperti cabai, tomat, dan jagung.
“Program ini kita laksanakan supaya mereka punya kemampuan bercocok tanam. Jadi, ketika mereka keluar dan belum mendapat pekerjaan formal, mereka bisa langsung menghasilkan sesuatu untuk keluarga mereka dengan bertani,” ujar Jefry dalam wawancara eksklusif dengan Referensi Maluku di ruangan kerjanya.
Keterampilan ini diharapkan menjadi jaring pengaman ekonomi bagi mereka pasca-bebas, memungkinkan mereka membuka lahan sendiri atau bekerja sebagai tenaga ahli pertanian di daerah masing-masing.
Kreativitas Tanpa Batas: Sulap Tempurung Jadi Emas
Tak hanya di sektor agraris, kreativitas warga binaan Rutan Ambon juga terasah melalui Subseksi Kegiatan Kerja. Inovasi paling menonjol adalah pengolahan limbah tempurung kelapa menjadi aneka kerajinan bernilai jual tinggi.
Dengan bimbingan instruktur, warga binaan mampu menyulap tempurung sederhana menjadi hiasan dinding estetis, miniatur kendaraan (sepeda dan mobil-mobilan), hingga perabot rumah tangga unik seperti kursi dan meja mebel.
“Mereka menunjukkan skill dan kemampuan luar biasa. Ini adalah bekal penting agar nantinya ketika bebas, mereka bisa berdaya di masyarakat, membuka usaha kerajinan, dan mandiri secara ekonomi,” kata Jefry dengan nada bangga pada warga binaannya.
Selain kerajinan tempurung, keterampilan las dan pembuatan sofa juga menjadi andalan. Warga binaan diajarkan teknik perakitan hingga perbaikan furnitur, membuka peluang karir sebagai pengrajin mebel atau tukang las profesional setelah masa hukuman selesai.
Bengkel dan Elektro: Skill Teknik untuk Dunia Nyata
Untuk memenuhi kebutuhan pasar akan tenaga teknis, Rutan Ambon juga menyediakan pelatihan di bidang kelistrikan (elektro) dan bengkel ringan sepeda motor. Meskipun Jefry mengakui bahwa skala praktik bengkel masih terbatas tergantung ketersediaan unit rusak untuk diperbaiki, namun dasar-dasar mekanik dan kelistrikan tetap diajarkan secara komprehensif.
“Ada bengkel ringan dan elektro. Memang skalanya menyesuaikan kondisi, tapi cukup untuk memberi mereka pemahaman dasar yang kuat agar bisa langsung bekerja di bengkel-bengkel luar nanti,” jelasnya.
Menghapus Stigma: Dari Beban Menjadi Aset
Di balik semua program teknis tersebut, tersimpan harapan besar Jefry terhadap perubahan pola pikir masyarakat. Ia ingin stigma negatif terhadap mantan warga binaan perlahan-lahan terkikis.
“Harapan kami, masyarakat bisa mendukung program-program ini. Sehingga ketika mereka keluar, tidak ada lagi cap ‘mantan narapidana’ yang merugikan. Mereka pulang membawa bekal skill, siap berkontribusi, dan menjadi aset berharga bagi lingkungan,” pungkas Jefry.
Langkah progresif yang diambil Rutan Ambon ini membuktikan bahwa rehabilitasi dan reintegrasi sosial bisa berjalan efektif. Dengan bekal keterampilan pertanian, kerajinan, dan teknik, para warga binaan kini memiliki jalan terang untuk kembali ke masyarakat bukan sebagai beban, melainkan sebagai wirausaha baru yang mandiri dan bermartabat.(RM-06)









Discussion about this post