Referensi Maluku
No Result
View All Result
  • NASIONAL
  • MALUKU
    • AMBON
    • KKT
    • MALRA
    • MALTENG
    • MBD
    • SBB
    • SBT
    • TUAL
    • ARU
    • BURSEL
    • BURU
  • DESA
  • HUKRIM
  • RAGAM
  • OLAHRAGA
    • LIGA 3 MALUKU
    • ALL SPORT
  • OPINI
  • EDITORIAL
  • EKONOMI
  • LOKAL
Youtube
Facebook
  • NASIONAL
  • MALUKU
    • AMBON
    • KKT
    • MALRA
    • MALTENG
    • MBD
    • SBB
    • SBT
    • TUAL
    • ARU
    • BURSEL
    • BURU
  • DESA
  • HUKRIM
  • RAGAM
  • OLAHRAGA
    • LIGA 3 MALUKU
    • ALL SPORT
  • OPINI
  • EDITORIAL
  • EKONOMI
  • LOKAL
No Result
View All Result
Referensi Maluku
Home Opini

Syafruddin-Assaat Presiden RI Terlupakan

April 23, 2022
in Opini
0
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Email

Oleh : Dr. M.J. Latuconsina, S.IP, MA

Baca Juga

Kiprah Süleyman Demirel di Panggung Politik Turki

Duduk dan Mendengarkan

Refleksi Menyongsong Persidangan Sinode ke-39 dan Seabad Gereja Protestan Maluku

Pemerhati Sosial,Ekonomi&Politik

 

 

Referensimaluku.id,-Ambon- Secara resmi tercatat hanya tujuh figur Presiden Republik Indonesia (RI) yang kina kenal ; Ir. Soekarno (1945-1967), Jenderal Besar H. M. Soeharto (1967-1998), Prof. Dr.ing. Ir. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng (1998-1999), K.H. Abdurrahman Wahid (1999-2001), Megawati Soekarno Putri (2001-2004), Jenderal Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2014) dan Ir. H. Joko Widodo (2014-2024). Namun dalam perjalanan republik ini kita melupakan dua presiden lainnya yakni, Mr. Syafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat.

 

Hal ini mengingatkan kita pada John Reed (1887-1920), seorang penulis, jurnalis dan aktivis sosialis berkebangsaan Amerika Serikat, yang turut mencatat secara rinci tentang segala sesuatu yang terjadi pada peristiwa Revolusi Bolshevik di Rusia di tahun 1917, dalam karya monumentalnya yang berjudul ; “10 Hari Yang Mengguncang Dunia” (“Ten Days That Shook the World”). John Reed menyimpulkan bahwa, “bangsa yang sedang berjuang tidak sempat membuat catatan.”

 

Rupanya kondisi ini dialami bangsa kita, tatkala melupakan para pejuang, yang gigih dengan jiwa dan raganya mempertahankan republik ini dari incaran imprealis Belanda, yang ingin kembali bercokol di tanah air. Meskipun kedua figur ini hanya merupakan Penjabat Presiden atau Acting Presiden, namun pernah menorehkan sejarah demi eksistensi negara ini dari rongrongan imprealis Belanda, yang hendak kembali lagi di tanah air, dengan menjalankan roda pemerintahan RI.

 

Mr. Sjafruddin Prawiranegara

Salah satu diantaranya Presiden RI yang terlupakan itu, adalah Mr. Sjafruddin Prawiranegara. Dia lahir di Serang, Banten pada 28 Februari 1911 dan meninggal di Jakarta pada 15 Februari 1989 dalam umur 77 tahun. Dia adalah seorang pejuang kemerdekaan, Menteri, Gubernur Bank Indonesia, Wakil Perdana Menteri dan Presiden. Dalam catatan sejarah, Mr. Syafruddin Prawiranegara adalah orang yang ditugaskan Presiden dan Wakil Presiden Soekarno-Mohammad Hatta untuk membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), ketika keduanya ditangkap pada Agresi Militer II, kemudian diasingkan Belanda ke Pulau Bangka dalam kurun waktu 1948-1949.

 

Mengantisipasi pengasingan mereka, sebelumnya Soekarno-Hatta telah mengetik dua buah kawat, dimana isi kawat pertama memberikan mandat kepada Menteri Kemakmuran Mr. Sjaffrudin Prawiranegara, untuk membentuk pemerintah darurat di Sumatera. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi terjadi kekosongan kekuasaan (power vacuum). Atas usaha gigih dari PDRI yang dipimpin Presiden Mr. Sjaffrudin Prawiranegara itu, memaksa Belanda untuk berunding dengan Indonesia melalui Perjanjian Roem-Roijen, yang dilaksanakan pada 14 April-07 Mei 1949.

Perundingan tersebut, yang kemudian mengakhiri konflik fisik antara Indonesia-Belanda, yang diikuti pula dengan kembalinya Soekarno-Hatta dan kawan-kawan dari pengasingan Bangka ke Yogyakarta pada 06 Juli 1949. Pada 13 Juli 1949, diadakan sidang antara PDRI dengan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta serta sejumlah menteri kedua kabinet. Serah terima pengembalian mandat dari PDRI, yang dipimpin Presiden Mr. Sjafruddin Prawiranegara secara resmi terjadi pada14 Juli 1949 di Jakarta.

 

Mr. Assaat

Sedangkan salah satu diantara Presiden RI yang terlupakan berikutnya adalah itu, Mr. Assaat. Nama lengkapnya adalah Assaat gelar Datuk Mudo lahir di Dusun Pincuran Landai, Kubang Putiah, Banuhampu, Agam, Sumatera Barat pada 18 September 1904, dan meninggal di Jakarta pada 16 Juni 1976 dalam usia 71 tahun. Dia adalah seorang politisi dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Dia merupakan pemangku jabatan Presiden Negara Republik Indonesia tatkala republik ini masih terhimpun dalam Republik Indonesia Serikat (RIS) bersama Negara Indonesia Timur (NIT), Negara Pasundan, Negara Jawa Timur, Negara Madura, Negara Sumatera Timur, dan Negara Sumatera Selatan.

 

 

Jabatan itu diemban Mr. Assaat pasca perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 27 Desember 1949, Mr. Assaat diamanatkan menjadi Acting (Pelaksana Tugas) Presiden Negara Republik Indonesia di Yogyakarta hingga 15 Agustus 1950. Seiring dengan bubarnya RIS, jabatannya sebagai Penjabat Presiden Negara Republik Indonesia pada Agustus 1950 berakhir, demikian juga jabatannya selaku ketua Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan Badan Pekerjanya.

 

Sebab pada 17 Agustus 1950, negara-negara bagian RIS itu secara resmi melebur diri dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bagi orang-orang yang mengenal Mr. Asaat, dia adalah pribadi yang sederhana. Ketika menjadi Penjabat Presiden, ia tidak mau dipanggil Paduka Yang Mulia layaknya Presiden Soekrano, tapi lebih memilih panggilan Saudara Acting Presiden yang menjadi agak canggung pada waktu itu. Mr. Assaat bukan ahli pidato, ia tidak suka banyak bicara, tetapi segala pekerjaan dapat diselesaikannya dengan baik.

 

 

Mengakhiri catatan historik ini meminjam ungkapan kontemplatif, Laurens van der Post (1906-1996), salah seorang penulis asal Afrika Selatan, yang hits melalui karyanya, “The Heart of the Hunter” di tahun 1961 lampau bahwa, “salah satu aspek kehidupan yang paling mengharukan adalah berapa lama ingatan terdalam tinggal bersama kita.” Ungkapan penasehat politik Perdana Menteri Inggris pada zamannya itu, menandaskan betapa penting ingatan, yang terealisasi dan terakuntabel melalui penulisan sejarah para negarawan yang pernah menjadi Presiden RI, agar tidak hilang ditelan dinamika perkembangan zaman. (Detik.com, 2015, Wikipedia, 2022). (RM-03)

ShareTweetSendSend

BERITATERKAIT

Kiprah Süleyman Demirel di Panggung Politik Turki

Kiprah Süleyman Demirel di Panggung Politik Turki

by admin
November 13, 2025
0

Referensimaluku.id,-Ambon-  Oleh : Dr. M.J. Latuconsina, S.IP,MA Staf...

Duduk dan Mendengarkan

Duduk dan Mendengarkan

by admin
November 12, 2025
0

Referensimaluku.id,-Ambon-  Oleh : Dr. M.J. Latuconsina,S.IP, MA Staf...

Refleksi Menyongsong Persidangan Sinode ke-39 dan Seabad Gereja Protestan Maluku

Refleksi Menyongsong Persidangan Sinode ke-39 dan Seabad Gereja Protestan Maluku

by admin
Oktober 20, 2025
0

Referensimaluku.id,-Ambon-  MENYONGSONG Pdt. (Em.). I. W. J. Hendriks...

Refleksi Kecil Seorang Guru : Guru dan Iqraah

Refleksi Kecil Seorang Guru : Guru dan Iqraah

by admin
Oktober 19, 2025
0

Referensimaluku.id,-Ambon-  Oleh :Abu Rery (Pengajar Sejarah Islam di...

Saatnya Kita Optimis – Jangan Mudah Diprovokasi Aspek Non Tekhnis.

Saatnya Kita Optimis – Jangan Mudah Diprovokasi Aspek Non Tekhnis.

by admin
Oktober 8, 2025
0

REFERENSIMALUKU.ID,-AMBON- Kita pernah bermain di Piala Dunia tapi...

Husain Latuconsina Raih Guru Besar Bidang Biokonservasi di UNISMA

Husain Latuconsina Raih Guru Besar Bidang Biokonservasi di UNISMA

by admin
Oktober 5, 2025
0

REFMAL.ID,-AMBON - Oleh : Dr M J Latuconsina...

Next Post
Fatwa Ulama Pemikir Keluar Masuk Bui

Fatwa Ulama Pemikir Keluar Masuk Bui

Menag Yaqut Hadiri Pentahbisan Uskup Amboina dan Melantik Pengurus GP Ansor Maluku

Menag Yaqut Hadiri Pentahbisan Uskup Amboina dan Melantik Pengurus GP Ansor Maluku

Discussion about this post

Popular Stories

  • Kisah Pasutri Petinju Maluku, Berulang Kali Sumbang Medali di PON, 15 Tahun Honor Tak Diangkat PNS

    Kisah Pasutri Petinju Maluku, Berulang Kali Sumbang Medali di PON, 15 Tahun Honor Tak Diangkat PNS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lima ABK Sabuk Nusantara 103 Babak Belur Dihajar Oknum TNI dan Brimob, Yermias Minta Danyon dan Dansat Bersikap

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bawa Malut United ke Posisi 3 Liga I, Imran Nahumarury Justru Keluar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Selamat Jalan Kaka Sani Tawainella, Sampai “Baku Dapa” Glend Fredly Latuihamallo di Tengah Cahaya Sorgawi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Delapan Wakil Rakyat Maluku di Senayan Membisu dan “Omong Kosong”, Anggota DPR RI Asal Sulut Bantu Heins Songjanan Siap Dilantik Tamtama TNI

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Pedomam Media Cyber

© 2022 referensimaluku.id

No Result
View All Result
  • NASIONAL
  • MALUKU
    • AMBON
    • KKT
    • MALRA
    • MALTENG
    • MBD
    • SBB
    • SBT
    • TUAL
    • ARU
    • BURSEL
    • BURU
  • DESA
  • HUKRIM
  • RAGAM
  • OLAHRAGA
    • LIGA 3 MALUKU
    • ALL SPORT
  • OPINI
  • EDITORIAL
  • EKONOMI

© 2022 referensimaluku.id